Mengapa Harus Berbohong?


Bohong (Dusta)  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya, dan kebohongan adalah perihal bohong; sesuatu yg bohong: ~ nya suatu ketika akan ketahuan juga;

Bohong sering dilakukan oleh makhluk yang bernama manusia ini, suami berbohong kepada istrinya, istri berbohong kepada suaminya, pedagang berbohong kepada pembelinya, dan kebohongan – kebohongan lainnya. Baik berbohong secara total atau berbohong sedikit, artinya kebenaran yang ditambah kebohongan sedikit. Agama Islam, memasukkan bohong itu sebagai segala sesuatu perbuatan dosa. Berikut ini AL-Qur’an dan Hadist yang membahas tentang kebohongan :

QS. 17 : 36

36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

 QS. 50 : 18

18. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.

 HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud

Kejujuran menuntun pada kebajikan, kebajikan dapat menghantarkan ke surga. Sesungguhnya kebohongan itu menyeret manusia pada kejahatan kejahatan itu dapat menyeret pada neraka. (berbohong hukumnya haram)

HR. Bukhari Muslim dari Abdullah bin amr bin ash.

Ada 4 hal kalau dimilikinya munafik tulen, yaitu :

  1. Jika diamanati dia berkhianat
  2. Jika berbicara dia dusta / bohong
  3. Jika berjanji diingkari
  4. Jika berselisih dia curang

 HR. Bukhari dari Ibnu Abas

Barangsiapa mengaku bermimpi sesuatu padahal dia tidak memimpikannya maka ia akan dituntut untuk menyambung dua ujung rambut.

 HR. Bukhari dari Ibnu Umar

Sebesar-besar dusta seseorang yang memaksakan kedua matanya melihat padahal dia tidak melihat.

Dengan Dalil – dalil tersebut jelaslah berbohong itu dosa, bahkan HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud, menyebutkan bahwa berbohong itu hukumnya Haram.  Tetapi Islam juga membolehkan umatnya berbohong dengan tujuan kebaikan,

HR Bukhari Muslim dari Ummu Kulsum

Bukanlah termasuk berbohong seseorang yang ingin memperbaiki

– Untuk memperbaiki orang yang bermusuhan

– Dalam peperangan

– Omongan suami dengan istrinya.

Lantas bagaimanakah jika seseorang bersaksi palsu atau berbohong dalam sebuah pengadilan. Saksi biasanya sebelum bersaksi akan disumpah menurut Agamanya. Jadi jika memberikan keterangan palsu atau berbohong dalam kesaksian Sidang Pengadilan, selain telah melecehkan agamanya juga akan mendapatkan sanksi hukum secara pidana.

Pasal 242 KUHP

(1) Barang siapa dalam keadaan dimana Undang – Undang menentukan supaya memberi keteranga di atas sumpah atau mengadakan akibat hukum keterangan yang  demikian , dengan sengaja memberikan keterangan palsu di atas sumpah, baik dengan lisan atau tulisan, secara pribadi atau oleh kuasanya yang ditunjuk untuk itu, diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun.

Lalu apa bedanya dengan para pejabat yang juga bersumpah di bawah Kitab suci, tetapi di dalam tugasnya selalu berbuat sewenang – wenang dan menyalahgunakan wewengnya. Mungkin secara hukum tertulis dia akan bebas, tetapi kelak Tuhan tidak akan membiarkannya, azab akan diterimanya, setiap amanah akan dimintai pertanggunjawabannya kelak.

Kebohongan akan memberikan dampak penderitaam psikologis dan sosial, apalagi jikan berbohong dalam kesaksian dipengadilan akan membuat yang “benar dipenjara dan yang salah tertawa” , meminjam istilah Rhoma Irama.

Semoga kita selalu berkata benar…!Waallahualam bissawab..!

Parung, 16 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s