Antara Nasib dan Takdir


Banyak orang yang terkadang berputus asa, menyesali nasibnya, kenapa harus seperti ini, dan lalu berandai andai, lalu mempersalah orang – orang sekitar sehingga timbullah rasa antipati dan antisosial.Banyak orang yang berpikiran bahwa nasib itu samadengan takdir. Nasib adalah suatu keadaan dikarenakan lingkungan atau kemampuan kita, dan Takdir adalah kehendak yang kuasa. Takdir tidak bisa dirubah atau disesali, sedangkan nasib masih bisa dirubah terkadang dari kemampuan si empunya nasib tersebut,

Terkadang berbagai cobaan yang menerjang manusia, bisa meruntuhkan semangat manusia untuk merubah nasib dan terburu – buru mengambil kesimpulan bahwa ini adalah takdir jadi tidak usah merubahnya. Menjadi Tukang Becak bukanlah Takdir, tetapi adalah nasib, dan nasib ini bisa berubah tergantung dari kerja keras dan kemaun yang tukang becak tersebut, dan selain memiliki kemaun untuk berubah tentunya perbanyak juga berdo’a.

Mungkin diantara teman – teman setuju dengan saya bahwa nasib, bisa berubah tergantung apakah kita mau merubahnya, “Allah Tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak mau merubahnya. Perubahan ini telah ditandaskan, tergantung goodwill atau kemaun. Peribahasa selau mengatakan, ada kemaun ada jalan, jika pintu satu tertutup masih ada pintu-pintu lainnya, banyak jalan menuju roma dsb.

Jadi teruslah berusaha jangan takut menerima kegagalan, seribu kegagalan satu keberhasilan yang akan menggoncang dunia. Banyak kisah – kisah orang – orang yang selalu gagal dan akan selalu berhasil.  Kadang manusia itu selalu tidak mau menerima kegagalan, ingin selalu berhasil.Manusia seperti jika suatu saat menerima kegagalan akan berputus asa dan tidak untuk mencoba lagi. Sedangkan manusia yang terbiasa gagal, akan selalu memiliki ketabahan karena dia sudah tabah dengan kegagalan dan penderitaan. Cobaan – cobaan  yang kita terima, terkadang selalu ada hikmahnya. Masih ingatkah Anda dengan cerita, Wortel, Telur dan Kopi jika direbus.

Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul. Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.

Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir. Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya: “Sayangku, apa yang kaulihat?” “Wortel, telur, dan kopi,” jawab anaknya.

Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya “Apa artinya, bapa?” Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.

“Yang mana engkau, anakku?” sang ayah bertanya.

“Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?”

Bagaimana dengan ANDA, sobat?

Apakah Anda seperti sebuah wortel, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan?

Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan, perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, tegar hati,serta kepala batu?

Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100 C. Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak. Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik.

Bagaimana cara Anda menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur, atau biji kopi?

Menurut saya, jadilah seperti kopi, meskipun seberat apapun cobaan -cobaan itu menghadang, Anda tetap bisa menguasai keadaan bahwa dapat membawa rahmat untuk orang – orang disekitarnya. La Tahzan…sababatku…!

 

Parung, 27 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s