MASIHKAH ADA SIKAP PATRIOTISME DAN NASIONALISME


Sudah 67 tahun usia republik ini, sudah terbilang sepuh memang. Jika negara- negara lainnya semakin menuanya usia semakin kuat dan majunya suatu negara, rakyat gemah ripah loh jinawi, sejahtera tak kurang  suatu apa pun. Meskipun sumber daya alam (SDA) mereka tidaklah mendukung, tetapi mereka “bisa”, kenapa juga dengan negara kita yang terkenal subur makmur, ibarat kata “Tongkat dan Kayu dilempar  Jadi Tanaman”. Kalau dibilang juga kita kurang  sumber daya manusia (SDM), tidak sedikit juga orang Indonesia yang pintar-pintar. Saya tidak mau menjawab pertanyaan ini  yang nantinya akan terjadi debat kusir, yang tak akan berakhir, tentunya teman -teman sekalian bisa menjawabnya apa sebabnya negara kita seperti ini.

Salah satu watak perorangan bangsa Indonesia yang saat ini sedang trendi adalah terlalu banyak membanggakan produk luar negeri, begitu juga dengan para pejabat dan wakil rakyat. Mereka senang berlibur ke luar negeri, bangga memakai produk luar negeri tidak terkecuali juga bangga menjadkan  suami “Bule”, karena stock cowok di Indonesia sudah habis, atau mungkin dinilai jelek, alias kurang komersial. Saat ini invasi dunia entertainment sebagian  besar  dikuasai oleh orang – orang asing.

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang telah menjadikan sebuah kampung yang bernama Indonesia, menjadi sebuah “Global Village”.

Marshall McLuhan mengkonseptualisasikan “global village” yang dimaknai sebagai sebuah proses homogenisasi jagat sebagai akibat dari kesuksesan system komunikasi secara keseluruhan. Saat ini betapa mudahnya orang berkomunikasi tidak hanya dalam suatu negara, tetapi juga dengan negara – negara lainnya.

Dengan pengaruh dari dunia luar ini, telah menjadikan watak bangsa Indonesia menjadi amat konsumtif, bangsa Indonesia tidak tahan hanya melihat gambar – gambar iklan mobil mewah dan gaya hidup mewah lainnya, dan ingin segera merealisasikannya. Banyak jalan menuju Roma, yang punya jabatan bisa korupsi dan yang gak punya jabatan, nunggu hingga mendapatkan jabatan.

Korupsi sedemikian merajalela di negeri tercinta ini, sungguh suatu perbuatan yang tidak mencerminkan sikap patriotisme dan nasionalisme. Bagaimana tidak uang korupsi dipergunakan untuk memperkaya diri, sementara masih jutaan rakyat berada dalam garis kemiskinan. Bukankah UUD 1045 pasal 34, menyebutkan : “fakir miskin dan anak – nak terlantar dipelihara oleh negera”.

Sekarang ini negeri tercinta ini bukan memelihara fakir miskin , malah memelihara para koruptor. dengan partai sebagai jembatannya.

Sekarang ini apa – apa yang dilakukan dengan mengatasnamakan rakyat, baik dilakukan oleh institusi (partai atau ormas) atau perorangan , ujung – ujungnya mencari simpati rakyat dan setelah terpilih jadi pejabat atau wakil rakyat melakukan tindakan yang tidak patriotis dan nasionalis.

Karena para pejabat dan wakil rakyatnya seperti itu, yang  tidak mencontohkan  sikap yang patriotis dan nasionalis, sebagaimana peribahasa “Guri kencing Berdiri Murid Kencing Berlari”, maka rakyatnya juga sikap patriotisme dan nasionalisme juga teramat rendah bahkan cenderung antipati.

Masih adakah sosok yang perlu diteladani di negari tercinta. Dahulu kita punya Bung karno, Bung Hatta, Syahrir, dan Tokoh – tokoh lainnya yang jiwa patriotisme dan nasionalisme tidak diragukan lagi. Unttuk zaman sekarang siapa kira – kira. Waalahualam bissab,

SELAMAT BERDIGAHAYU NEGERI KU, USIA 67 SEMOGA KAU TAK SEMAKIN RENTA….!Gambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s