KONTROVERSI FILM INNOCENCE OF MUSLIMS


Agama manapun di dunia, ntah itu Hindu, Budha, Kristen, atau Yahudi sekalipun, akan merasa marah dan terhina jika Nabinya , sang pembawa wahyu, dan dianggap sebagai orang suci, diilustrasikan sebagai manusia yang sangat tidak beradab, keji dan tidak berperikemanusian, sebagaimana yang diilustrasikan dalam film Innnonce Of Muslims. Film ini awalnya bukan menceritakan tentang Islam, apalagi menyebut – nyebut Muhammad SAW sebagai Tokohnya dalam Film ini, awalnya Film ini bertitel : Dessert Warrior, kini setelah Film ini berganti judul dan diduber ulang, isi Film itu telah berubah, lebih menjurus kepada penghinaan terhadap Rasullah SAW, dan Film ini diupload di Youtube dan katanya pihak Youtube sudah memblokir film ini, tetapi ini aneh semalam saya masih bisa mendowload film ini. Protes dan aksi penolakan terhadap film ini bermunculan seperti yang saya baca di www.kompas. com.

Film The Innocence of Muslims telah mengguncangkan dunia, khususnya dunia Islam. Isinya dinilai menghina agama Islam, Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat Nabi. Karena film yang disutradarai Nakoula Basseley, warga Amerika Serikat, itu mendapat penolakan dari umat Islam, termasuk umat Islam Indonesia. Majelis Ulama Indonesia menyatakan haram terhadap film yang menghina Nabi ini.

“Seperti diketahui, visualisasi Nabi Muhammad SAW menurut dasar ajaran agama Islam tidak dibenarkan dan diharamkan,” kata Ketua Bidang Luar Negeri MUI KH Muhidin Junaidi, dalam konfrensi pers di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/9/2012).

Dia mengatakan, di Indonesia, pelarangan visualisasi Nabi diperkuat oleh MUI dengan fatwa MUI Nomor 12 tanggal 2 Juni 1988, yang berbunyi, para nabi/rasul dan keluarganya haram divisualisasikan dalam film. “Dalam riwayat, bahwa Nabi pada Fath Makkah (penaklukan Mekkah) memerintahkan untuk memecahkan, menghancurkan gambar dan patung para nabi yang terdahulu yang dipajang di Ka’bah. Ijma’ Sukati juga menyebutkan tentang tidak bolehnya melukis nabi atau rasul,” kata Muhidin.

Dalam kaitan dengan film The Innocence of Muslims, MUI menyatakan, pertama, melarang film ini beredar di Indonesia dalam bentuk apa pun. Kedua, mengusulkan agar para pelaku penistaan terhadap agama ini dibawa ke Mahkamah Konstitusi agar mendapat efek jera dan mendesak supaya diberi hukuman berat. Ketiga, MUI mengingatkan pihak dalam negeri agar hati-hati bila membuat film yang memasuki wilayah peka.

MUI menghargai kreativitas, tetapi tanpa penistaan terhadap agama. Keempat, umat Islam hendaknya menanggapi film ini tidak dengan emosional. Kelima, umat Islam diminta untuk waspada dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah dalam menghadapi setiap provokasi dan konspirasi musuh.

Pemerintah Amerika Serikat berhak membawa kasus pembuatan film Innocence of Muslims menjadi agenda peradilan hukum di negaranya. Film itu bukan saja menimbulkan gelombang protes keras umat Islam di berbagai belahan dunia, melainkan sekaligus telah mengorbankan kehidupan warga negara AS, termasuk mengancam kehormatan fasilitas strategis AS di luar negeri.

Dimikian dikemukakan Wakil Ketua Dewan Penasihat Lembaga Kajian Center for Information and Development Studies (CIDES) Ricky Rachmadi, Selasa (18/9/2012) malam di Jakarta.

“Sudah ada korban dengan merenggut nyawa Duta Besar AS dan stafnya di Benghazi, Libya, akibat film yang memprovokasi kemarahan umat Islam itu. Belum lagi, kebencian yang terus meluas ditujukan kepada simbol-simbol AS sehingga tidak menutup kemungkinan adanya ancaman lain untuk bisa merusak kepentingan AS di banyak negara,” ujar Ricky Rachmadi, yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Hukum dan HAM DPP Partai Golkar.

Menurut Ricky, meski AS menganut asas demokrasi yang menjamin kebebasan berekspresi (freedom of expression) bagi warga negaranya, dalam kasus beredarnya film Innocence of Muslims diharapkan Pemerintah AS bersikap sensitif guna mengakhiri perkembangan aksi-aksi militan di kalangan Islam yang terlukai oleh film tersebut.

“Karenanya, atas pertimbangan memelihara agenda AS di lingkungan global, termasuk demi menjaga perasaan umat Islam di dunia mana pun, serta upaya memperkuat persahabatan dengan negara-negara Islam, maka Pemerintah AS pantas mengupayakan langkah-langkah hukum untuk menjerat aktor utama pembuat film Innocence of Muslims,” tutur Ricky.

Melalui proses ke ranah hukum yang disemangati AS, menurut Ricky, hal itu setidaknya memberi dampak pada kenyamanan umat Islam, di samping menunjukkan keseriusan AS dalam menciptakan harmoni dunia terkait pembelaan pada nilai-nilai ajaran Islam.

“Tanpa itu, keberadaan AS akan selalu menjadi jarak buat umat Islam, yang bahkan akan selalu membangkitkan segala protes, perlawanan, ataupun berupa sikap antipati lain dari komunitas Islam karena alasan melindungi pelanggaran berekspresi yang menyakiti Islam,” ucap Ricky.

The Wahid Institute ikut mengecam beredarnya film “Innocence of Muslims” yang diproduksi di Amerika Serikat (AS). LSM yang didirikan oleh Abdurahman Wahid itu mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan bersifat anarkis.

“Demolah semua, mari kita berdemo, enggak masalah, tapi dengan cara damai,” ujar Direktur Wahid Institute, Yenny Zanuba Wahid, di Gedung Wahid Institute, Jakarta, Selasa (18/9/2012).

Yenny pun menyayangkan tindakan pihak pembuat film tersebut, yang materinya dapat diduga dan ditafsirkan sebagai tindakan intoleran kepada komunitas agama tertentu. Film tersebut malah berpotensi memicu ketegangan antaragama.

Selain di Indonesia, film yang beredar di Youtube tersebut juga menuai protes dari beberapa negara di Timur Tengah seperti Mesir dan Libya. Di Libya aksi anarkis terjadi hingga menewaskan empat warga AS, termasuk Dubes AS untuk Libya Christopher Stevens.

“Kita mengimbau kepada umat Islam di Tanah Air untuk tidak terpancing melakukan aksi-aksi kekerasan,” terangnya. Untuk itu, The Wahid Insitute akan menyuarakan protes terhadap film tersebut melalui dunia online.

 

Untuk menghindari peristiwa serupa, Yenny akan meminta situs-situs online untuk mensensor film berbau SARA atau agama layaknya sensor terhadap film berbau pornografi.

“The Wahid Insitute akan menggalang dukungan secara online dan offline untuk melobi situs-situs besar seperti Youtube dan Google untuk menerapkan kebijakan self censorship terhadap karya-karya yang bernuansa kebencian yang berpotensi menciptakan ketegangan antar umat beragama,” ujarnya.

Sementara itu, aktivis platform Change.org, Usman Hamid mengatakan, cara melakukan protes bisa dilakukan pula melalui dunia online. Masyrakat diminta dapat meredam emosional dan menghasilkan solusi terbaik tanpa harus bersifat anarkis.

“Publik melakukan caranya yang rasional, jangan dengan cara emosional. Ini era digital harus dioptimalkan dengan cara yang baik,” terang Usman.

Yenny menjelaskan, pihaknya akan berkonsultasi dengan pakar hukum internasional untuk melihat kemungkinan dapat melakukan penuntutan secara hukum terhadap produsen karya “Innocence of Muslims”. Dia melihat, film tersebut masuk dalam kategori kriminalitas. Menurutnya, hak dalam kebebasan berekspresi di dunia online juga harus dipertanggungjawabkan apabila menimbulkan reaksi protes seperti yang terjadi belakangan ini.

Aktris yang terlibat dalam film tentang Nabi Muhammad ‘Innocence of Muslims’ mengancam akan menuntut sang sutradara. Pasalnya, sang aktris tidak diberitahu film itu akan digunakan sebagai propaganda anti-Islam.
Aktris bernama Cindy Lee Garcia, mengatakan ia memegang peranan kecil dalam film itu dan diberitahu bahwa judulnya adalah Desert Warriors (Pejuang Padang Pasir). Menurut perempuan asal Bakersfield, California, Amerika Serikat, ia hanya diberitahu bahwa film tersebut bercerita tentang kehidupan di Mesir 2.000 tahun lalu.
Seperti dikuti situs Gawker, Garcia mengancam akan menuntut sutradara terkait peran yang diberikan kepada para pemain.
Film itu dianggap melecahkan Islam karena adanya komentar yang dianggap paling menyinggung tentang Islam dan Nabi Muhammad. Komentar itu direkam setelah pembuatan film dan tidak disuarakan oleh para aktor dan aktris.
Film yang memicu demonstrasi di depan Kedutaan Amerika di Mesir, Libya, dan Yaman itu diproduksi di Amerika Serikat dan sempat ditayangkan di bioskop kecil Hollywood pada akhir Juni lalu.
Yang memicu maraknya demonstrasi di penjuru dunia adalah potongan film yang diterbitkan di YouTube dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
‘Innocence of Muslims’ pertama kali muncul di Youtube pada 1 Juli lalu dalam bahasa Inggris. Orang yang mengunggah film tersebut menggunakan nama samaran “sambacile.”
Produksi film itu sendiri sangat buruk dengan adegan dan berita yang buruk pula.
Seorang pria yang mengaku sebagai penulis dan sutradara film mengklaim bernama Sam Bacile, berbicara kepada sejumlah media Selasa (11/9). Dia mengeluarkan komentar anti-Islam untuk mendukung film itu.
Ia mengklaim sebagai warga Yahudi kelahiran Israel dan agen properti. Ia menggalang jutaan dolar dari para donor Yahudi untuk memproduksi film itu.
Namun pekan lalu, namanya tidak muncul lagi di internet, kecuali dalam penerbitan di YouTube. Namanya juga tidak tercatat sebagai agen properti. Banyak pihak yang mempertanyakan apakah Sam Bacile adalah nama sebenarnya.
Seorang pegiat sayap kanan Amerika Steve Klein -yang terkait dengan berbagai kelompok anti-Islam di California dan mempromosikan video itu, mengatakan ia tidak mengenal sutradara film. Klein mengeluarkan pernyataan yang bertentangan di media dan sempat mengakui bahwa Sam Bacile adalah nama samaran.
Pastor Terry Jones dari Florida yang sempat melakukan aksi anti-Islam dengan upaya membakar Alquran, mengatakan ia sempat kontak dengan Bacile untuk mempromosikan film namun belum bertemu langsung.
Asal film dan potongan di internet serta motivasi di balik produksi film itu masih tetap misteri. Namun tampaknya film itu terkait dengan produsen film Israel seperti yang dilaporkan sebelumnya.

foto

 

Motif di Balik Film Anti-Islam Innocence of Muslim 

Aktris Cindy Lee Garcia sempat meminta pertanggung jawaban sutradara film Innocence of Muslims Sam Bacile terkait film yang dianggap mendiskreditkan sosok Nabi Muhammad SAW itu. Cindy menelepon langsung Bacile untuk memprotes film itu.
Saat menelepon Bacile, Cindy mengetahui motivasi Bacile membuat Innocence of Muslims. “Saya muak melihat kaum radikal Islam saling membunuh satu sama lain,” ujar Cindy mengutip jawaban Sam dalam sebuah wawancara dengan Gawker, Rabu, 12 September 2012.
Film kontroversial ini dianggap kurang ajar karena mendiskreditkan sosok Nabi Muhammad. Akibatnya, sejumlah masyarakat muslim marah. Dalam unjuk rasa terkait film ini di Benghazi, Libya, empat diplomat Amerika tewas mengenaskan karena kantornya diroket dan dibakar.
“Sutradara bilang (saat syuting), ini hanya film biasa berlatar Mesir 2.000 tahun yang lalu,” ujar aktris asal Bakersfield, California. Dalam film itu ia memainkan peran kecil sebagai wanita yang menyerahkan anaknya pada Nabi Muhammad untuk dinikahi.
“Dalam film bukan Muhammad peran yang kutahu, tapi Master George,” ujarnya.
Nama Muhammad sendiri dialihsuarakan oleh sang sutradara pada proses paska produksi. Mengetahui itu, ia merasa amat geram pada sang sutradara dan produser karena merasa dimaanfaatkan. Dampaknya, ia merasa trauma. “Seseorang terbunuh karena film yang kubintangi,” ujarnya.
Hasil editing final film tersebut diakuinya amat mengerikan. Terlebih setelah melihat dampak yang ditimbulkan film yang diketahuinya berjudul ”Desert Warriors” tersebut. Film yang telah diedit tersebut kemudian diunggah cuplikannya ke dalam situs YouTube. Cuplikan ini lah yang membuat kaum muslim marah besar. Selain Libya, di Mesir juga tercatat unjuk rasa besar-besaran memprotes film ini. Berikut cuplikan videonya, yang sudah saya download.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s