Penulis adalah Orang Yang Kesepian Dan Dicap Pengangguran


Menjadi penulis memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, selain kita harus terlatih dalam menulis kita juga harus menguasai teknik menulis yang baik, tanpa menguasai teknik yang baik tulisan kita tidak akan dilirik oleh penerbit atau pembaca. Contohnya Saya, dalam masa belajar banyak tulisan – tulisan saya hanya menjadi onggokan sampah dan akhir dijual kiloan kepada tukang rongsokan dengan harga Rp.1000 per-kilonya. Dan hanya menjadi kenangan dalam buku diary saya, pernah saya coba tawarkan ke beberapa penerbit tak pernah ada balasan, tetapi saya tidak pernah berputus, dan akan terus “bersemangat” menulis hingga akhir khayat ini.

Setelah sekian lama “vakum” puasa menulis, kita saya memberanikan diri untuk belajar kembali menulis, meskipun usia sudah tidak muda lagi, sekarang usia sudah 40 Tahun. Untuk belajar tidak ada kata “terlambat”. Mungkin menjadi penulis akan lebih butuh konsentrasi dan ketenangan suasana, di saat orang lain tertidur, kita akan terbangun memainkan jemari kita diatas keyboard, di saat orang lain sibuk dengan pernak – pernik pekerjaan, kita akan melamun dan mencari inspirasi, mungkin ke tempat – tempat sunyi dan tenang yang akan memberikan inspirasi. Tetapi jika tidak ada modal ya cukup di rumah saja, makanya menjadi penulis kita akan menjadi manusia kesepian, karena tidak teman yang telepon kita sekedar ber “say hello”, serta satu hal yang teramat fatal, kita akan dianggap pengangguran oleh tetangga, karena kita selalu di rumah saja.

Parung, 26 November 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s