Jadikan Pengalaman Buruk Atau Bencana Sebagai Sahabat


Copy of DSC00366Setiap bencana apa pun pasti akan menyisakan kenangan pahit yang tidak enak untuk dikenang, tetapi juga ada kenangan indah yang tidak bisa kita lupakan. Semua kenangan entah itu pahit atau manis hanyalah masa lalu, dan sebaiknya kita simpan dalam dalam memori kita.

Kenangan pahit bukan berarti harus kita ratapi dengan sejuta kesedihan, tetapi jadikanlah sebagai pengalaman buruk yang setiap orang pasti sudah mengalaminya. Dan kita juga tidak akan pernah mengetahuinya, entah pengalaman buruk apa lagi yang akan terjadi pada diri kita , maka kita haruslah mempersiapakan segala sesuatunya agar kita tidak terlalu traumatis mengahadapi pengalaman buruk itu, yang membuat kita akan menjadi manusia superhero dalam menghadapi pengalaman buruk itu.

24427_10152447272150179_1043233201_nPengalaman buruk bisa kita dapat dari 2 faktor, yaitu dari alam dan manusia. Dari alam yaitu seperti bencana banjir yang baru – baru ini terjadi, dan dari manusia seperti pengalaman dengan kekasih, pengalaman buruk dari pengkhianatan teman baik, saudara, dan orang – orang membenci kita.

Jadikan pengalaman buruk ini sebagai referen (acuan) agar kita menjadi orang tegar dan berani menghadapinya. Seperti Saya, yang pernah tinggal di sekitar bantaran kali Ciliwung, saya sudah terbiasa menghadapi banjir sebesar apa pun bahkan banjir telah jadikan sahabat permainan. Semasa kecil, saya sudah menjadi orang pemberani, ketika banjir tiba sering sekali saya berani berenang melawan arus air  kencang. Keberanian saya dan teman – teman  bukan tidak bermodalkan  keterampilan berenang yang mumpuni. Umumnya anak – anak yang tinggal di pinggir – pinnggir kali ciliwung pandai  berenang, karena sejak kecil kita sudah bersahabat dengan derasnya air Kali Ciliwung.

98353_banjir-di-jakartaBegitu juga dalam menghadapi kenyataan pahitnya hidup, entah kita tertimpa bencana alam atau mendapatkan masalah dari munusia, cobalah untuk menjadikan mereka sebagai sahabat agar kita lebih mengenal lebih jauh tentang mereka itu. Alam akan memberikan banyak keuntungan yang besar bagi kita semua, begitu juga manusia bagaimanapun buruknya karakter mereka cobalah dengan sabar menghadapinya. Saya yakin hati manusia tidaklah terbuat dari baja, dengan seringnya kita memberikan ketulusan dan pembelajaran kepada mereka, mereka akan cepat berubah sikap. Dan perlu diingat manusia adalah manusia bergerak dengan sejuta mobilitas setiap input – inputnya akan disimpan dalam memorinya, dan jikalah lebih banyak input negatif yang masuk maka akan menghasilkan output negatif pula, maka muncuk manusia – manusia munafik, jahat, tukang fitnah, egoisme yang berlebih, sok pintar dan sebagainya. Tetapi sebaliknya, jika lebih banyak input positifnya maka muncullah manusia, yang baik, sholeh, rendah hati.

anungistana1Bukan saya menyamakan manusia dengan komputer, tetapi bukankah komputer juga itu buatan manusia. Bukan tidak mungkin nantinya manusia yang baik akan menjadi jahat. Hal ini dimungkinkah karena mungkin upgrade lingkungan yang mempengaruhinya.

Saya tidak menganjurkan anda menjadi seorang nabi yang begitu gigih menerima kejahatan dari orang – orang yang tidak menyukainya. Nabi Muhammad dalam berbagai hal banyak menerima cacian, hinaan bahkan hingga kekerasan fisik dari sekalipun dari orang – orang yang tidak suka kepadanya. Alkisah, hiduplah di sudut pasar Madinah Al – Munawarah seorang pengemis Yahudi buta dari hari demi hari ia lalui dengan selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila,dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.

Setiap pagi Rasullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan,

Apabila Rasullah  sampai, beliau  terus mendapatkan pengemis buta Yahudi itu lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lembut dan bersopan tanpa berkata apa-apa.

Pengemis buta Yahudi yang tidak pernah bertanya siapakah yang menyuapkan itu begitu berselera sekali apabila ada orang yang baik hati memberi dan menyuapkan makanan ke mulutnya.

Perbuatan Rasullah  itu dilakukannya setiap hari hingga Rasullah wafat. Sejak kewafatan Rasullah, tidak ada siapa pun  yang sudi menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu setiap pagi.

Pada satu pagi, Saidina Abu Bakar ra pergi ke rumah anaknya, Siti Aisyah yang juga merupakan isteri Rasulullah SAW untuk bertanyakan sesuatu kepadanya.

“Wahai anakku Aisyah, apakah kebiasaan yang Muhammad lakukan yang aku tidak lakukan?”, tanya Saidina Abu Bakar ra sebaik duduk di dalam rumah Aisyah.

“Ayahandaku, boleh dikatakan apa sahaja yang Rasulullah lakukan, ayahanda telah lakukan kecuali satu,” beritahu Aisyah sambil melayan ayahandanya dengan hidangan yang tersedia.

“Apakah dia wahai anakku, Aisyah?”

“Setiap pagi Rasulullah akan membawa makanan untuk seorang pengemis buta Yahudi di satu sudut di pasar Madinah dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejak kepergian  Rasulullah, sudah tentu tidak ada seseorang  lagi yang menyuapkan makanan kepada pengemis itu,” beritahu Aisyah kepada ayahandanya seolah-olah kasihan dengan nasib pengemis itu.

“Kalau begitu, ayahanda akan lakukan seperti apa yang Muhammad lakukan setiap pagi. Kamu sediakanlah makanan yang selalu dibawa oleh Muhammad untuk pengemis itu,” beritahu Saidina Abu Bakar ra kepada anaknya.

Pada keesokan harinya, Saidina Abu BAkar ra membawakan makanan yang sama seperti apa yang Rasulullah SAW bawakan untuk pengemis itu sebelum ini. Setelah puas mencari, akhirnya beliau bertemu juga dengan pengemis buta itu. Saidina Abu Bakar ra segera menghampiri dan terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu.

“Hei… Siapakah kamu? Berani kamu menyuapku?” Pengemis buta itu menghardik Saidina Abu Bakar ra. Pengemis buta itu terasa lain benar perbuatan Saidina Abu Bakar ra itu seperti kebiasaan.

“Akulah orang yang selalu menyuapimu setiap pagi,” jawab Saidina Abu Bakar ra sambil memperhatikan wajah pengemis buta itu yang nampak marah.

“Bukan! Kamu bukan orang yang selalu menyuapku setiap pagi. Perbuatan orang itu terlalu lembut dan bersopan. Aku dapat merasakannya, dia terlebih dahulu akan menghaluskan makanan itu kemudian barulah menyuapi ke mulutku. Tapi kali ini aku terasa sangat susah  menelannya,” balas pengemis buta itu lagi sambil menolak tangan Saidina Abu Bakar ra yang masih memegang makanan itu.

“Ya, aku mengaku. Aku bukan orang yang biasa menyuapimu setiap pagi. Aku adalah sahabatnya. Aku menggantikan tempatnya,” beritahu Saidina Abu Bakar ra sambil mengusap air matanya yang sedih.

“Tetapi ke manakah perginya orang itu dan siapakah dia?”, tanya pengemis buta itu.

“Dia ialah Muhammad Rasulullah. Dia telah kembali ke rahmatullah. Sebab itulah aku yang menggantikan tempatnya,” jelas Saidina Abu Bakar ra dengan harapan pengemis itu berpuas hati.

“Dia Muhammad Rasulullah?”, kata pengemis itu dengan suara yang terkedu.

“Mengapa kamu terkejut? Dia insan yang sangat mulia,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. Tidak semena-mena pengemis itu menangis sepuas-puasnya. Setelah agak reda, barulah dia bersuara.

“Benarkah dia Muhammad Rasulullah?”, pengemis buta itu mengulangi pertanyaannya seolah-olah tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu.

“Ya benar. Kamu tidak percaya?”

“Selama ini aku menghinanya, aku memfitnahnya tetapi dia sedikit pun tidak pernah memarahiku malah dia terus juga menyuap makanan ke mulutku dengan sopan dan lembut. Sekarang aku telah kehilangannya sebelum sempat memohon ampun kepadanya,” ujar pengemis itu sambil menangis teresak-esak.

“Dia memang insan yang sangat mulia. Kamu tidak akan berjumpa dengan manusia semulia itu selepas ini kerana dia telah pun meninggalkan kita,” beritahu Saidina Abu Bakar ra.

“Kalau begitu, aku mahu kamu menjadi saksi. Aku ingin mengucapkan kalimah syahadah dan aku memohon keampunan Allah,” ujar pengemis buta itu.

Selepas peristiwa itu, pengemis itu telah memeluk Islam di hadapan Saidina Abu Bakar ra. Keperibadian Rasulullah SAW telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah.

Dari riwayat Rasullah, kita bisa ambil pelajaran berharga bahwa setiap perbuatan jahat, fitnah, caci maki, dengki, sebaiknya kita balas dengan berbagai kebaikan kepadanya. Saya yakin, siapa pun yang mengaku berbentuk manusia di bumi ini, tidak akan pernah lupa dengan jasa – jasa kita kepadanya, meskipun berbagai keburukan telah kita terima dari manusia tersebut.

Jika pun masih ada manusia yang lupa akan kebaikan kita dan masih tetap berbuat jahat kepada diri kita, maka patut kita ragukan kemanuasiaannya,atau mungkit titisan dari zadal yang turun ke bumi.

Begitu pula dengan alam, jika kita memperlakukan alam dengan baik, alam pun akan berlaku baik kepada kita dengan memberika berbagai manfaat untuk kehidupan orang banyak.

Demikianlah !!! semoga bermanfaat!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s