Pertemuan Yang Mengubah Jalan Hidupku


Dear all blogger,

Adab dan Sebab terkabulnya DoaIni saya posting cerpen abal – abal saya yang lama tersimpan. Tak sengaja aku temukan di antara ribuan file yang tersimpan.Masih belum sempurna mohon bimbingannya.

” Pertemuan Yang Mengubah Jalan Hidupku”

Lama aku berdiri di depan Taman air mancur Blok M, tak kuat karena terlalu lamanya aku berdiri aku mencari temapat duduk sembarang menghadap air mancur. Yang airnya agak ragu – ragu memancar. Matahari siang itu begitu terik dan menyengat kulitku  juga  orang – orang disekelilingku, secara gerak refleks mereka  merapatkan diri ke tempat teduh.Suara bising kendaraan yang didominasi oleh kendaraan angkutan umum bis kota, diiringi jeritan para kondektur menawarkan tempat tujuan calon penumpan.

“Pulogadung!”

“Garogol!” teriak kondektur dengan logat Medannya, yang maksudnya “Grogol”

“Senen!!”

“Tanah Abang!”

“Priok!”

“Kalideres!”

Sementara suara adzan terdengar berkumandang merdu, seakan mengaingatkan kita bukan menunjukkan waktu ini sudah siang, tetapi mengingatkan kepada orang di sekitarnya,  untuk segera tinggalkan  urusan duniawi sejenak menghadap Sang Khalik. Kudengarkan suara panggilan shalat dhuhur tersebut yang suaranya semakin sayup – sayup  hingga terdengar lafadz terakhirnya.

Aku belum juga beranjak, menuju tempat di mana adzan tersebut berkumandang, dan tidak seharus aku demikian mengabaikan panggilan suci. Mata asyik melihat keadaan sekitar taman. Ada banyak rupa perempuan di taman ini. Yang jelas, yang duduk di sini adalah mereka yang istirahat dari kelelahan setelang menjambangi toko – took atau pusat perbelanjaan, atau hanya sebentar menghindarkan kulit  dari sengatan matahari di siang ni.

“Panas!” seorang wanita setengah baya sambil menuntun anaknya, dengan wajah yang bersimbah keringat.

Tak sadar aku, setelah lama duduk di tepian pagar tanaman, rupanya sedari tadi ada yang sedang mengawasiku. Tatapannya penuh tanda Tanya, seperti yang mengingat – ngingat, lalu tersunging sebuah senyuman dari bibir yang merah merekah , setelah sekian lama tidak melihat beberapa  langkah dia menghampiriku. Aku masih tak sadar, bahwa ada wanita, yang telah ikut masuk dalam lingkaran perjalanan hidupku. Wanita kampung, yang selama ini lugu, dan aku yakinkan bahwa dia tak mungkin akan merambah ke kota besar seperti Jakarta ini.Wanita yang begitu Shaleha dan lugu itu, kini benar – benar sudah merambah ke Jakarta. Berceritalah  ia tentang kenapa ia harus terdampar di kota besar ini, tak lain dan tak bukan dia terbujuk oleh seorang laki – laki yang tidak bertanggungjawab yang menyebabkan ia terjerumus ke kota besar ini.

“Euis, Di Jakarta tidak perlu takut tidak bekerja di sana. Di sana pekerjaan apa saja tersedia.Euis tinggal pilih saja kan lumayan penghasiannya bisa buat ngirimi Abah – Ambu di kampung” Begitu bujuk somad meyakinkan.

“Euis takut, Kang! “ Euis mencoba memberikan alasan logis agar Somad tidak memburunya dengan bujukan – bujukan yang kan membuat dirinya tergoda.

Belum juga gadis kampung nan lugu ini menuruskan pembicaraannya, benar apa yang ada pikiran Euis, Pemuda itu terus membanjiri Euis dengan kata – kata muluk, terdengar indah bak hembusan angin di surgawi.

Tak berapa lama setelah Somad membujuk Euis untuk bekerja di Jakarta, Abang sakit keras dan keluarga Euis membutuhkan banyak biaya untuk berobat  Abah di Rumah Sakit.

Setelah mencoba meminta pertolongan ke beberapa kerabatnya yang mampu, tidak juga ada bantuan untuk biaya  pengobatan. Semua kerabatnya taka da satu pun yang berbelas kasihan. Padahal Abah ketika ada sanak saudara yang sakit, tidak senang hati membantunya walaupun mereka sekeluarga juga dalam keadaan yang serba terbatas dan serba kekurangan.Dalam keadaan galau dan bingung, datanglah Somad sebagai juru selamat. Somad bersedia tetapi Euis diwajibkan menandatangani fakta integritas kepada Somad, yaitu Euis harus mau diajak ke Jakarta bersama dengan Somad. Alasannya sih untuk bekerja di Home Industry milik Somad. Tetapi entah apa yang ada di benak Somad terhadap gadis lugu dan cantik ini. Adakah maksud lain dari pertolongannya kepada keluarga Euis dengan mengharuskan untuk Euis ikut ke Jakarta. Euis tak pernah berpikir sejauh itu, yang penting nyawa abah terselamatkan dan bisa membayar biaya rumah sakit yang mengharus si pasien harus membayar uang jaminan Rumah Sakit. Dengan adanya uang jaminan ini mungkin pihak Rumah Sakit takut pasien kabur dan tidak membayar.

Setelah 3 minggu dirawat di Rumah Sakit, keadaan Abah pun sudah berangsur membaik dan 2 hari lagi Abah sudah diperbolehkan pulang. Itu berarti Euis harus menepati janji kepada Somad, sebagai balas budi, sebagai ganti bayar hutang, dan ini merupakan hal yang teramat berat harus meninggalkan  orang tua yang teramat dicintainya itu. Dan tentunya Abah dan Ambu tak bisa berbuat apa-apa, mereka harus merelakan anak semata wayangnya meninggalkan tempat kelahirannya, meninggalkan mereka semua untuk ke kota Jakarta demi membayar hutang – hutang kepada Somad.

Di sudut sebuah kamar, yang yang kasurnya masih berantakan. Euis menangis terisak-isak sedih seperti telah kehilangan sesuatu yang selama ini dijaganya baik, sebuah mahkota yang teramat berharga, dan kelak akan dipersembahkan untuk suami tercintanya, tetapi Somad telah merenggutnya malam itu, malam dimana Euis baru tiba di Jakarta dan Somad yang ternyata adalah seorang  Germo membawanya ke sebuah rumah besar yang ternyata adalah rumah bordil yang cukup aman dan mendapat bekingan dari aparat berpengaruh. Dan rupanya sudah menjadi kebiasaan Somad, jika mendapatkan barang dagangan baru dia wajib mencicipinya, dengan alasan untuk pengenalan dan biar tidak kaget nantinya setelah bekerja. Dan sejak kehormatan direnggut Somad mulailah Euis menjalani profesi sebagai wanita malam

Tersentak Aku mendengar cerita gadis dusun nan lugu ini, seakan – akan Aku sedang bermimpi, tetapi ini memang nyata, Aku tidak bermimpi

“Jadi Euis sekarang masih tinggal di sana” tanyaku dengan ragu, dan suara agak serak.

“Tidak, Aa!Sekarang rumah pelacuran itu sudah tidak beroperasi lagi, sudah digerebek oleh aparat meskipun katanya ada aparat yang berpengaruh membekingi tempat itu. mereka semua termasuk juga kang Somad sudah ditangkap polisi”

“Lalu kenapa Euis tidak ikut tertangkap juga?” tanyaku sambil memandang gadis itu, dan ternyata baru kusadari ternyata setelah dia tinggal di kota, dia tampak terlihat lebih cantik, dan memang dasarnya dia cantik, jadi tidaklah mengheran jika banyak anak – anak muda tertarik kepadanya, termasuk juga aku. Awalnya aku mengenalnya ,  ketika aku sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Desa Sirnajaya, Kabupaten Garut.

“Ketika terjadi  penangkapan Euis sedang dibawa tamu, ketika Euis pulang keadaan rumah sedang dijaga ketat polisi. Dan untungnya ada seorang teman yang juga penghuni rumah itu yang juga baru pulang sehabis dibawa tamu mengajak Euis pergi dari tempat itu”

“lalu?” tanyaku berharap agar Euis mau bercerita lebih detil lagi, ada perasaan iba kepada, dan entah kenapa, meskipun aku tau bahwa dia bukanlah Euis yang dulu lagi, seorang lelaki bejat yang bernama Somad telah menjerumuskannya kea lam nista, tetapi Aku yakin bahwa pada suatu saat dia pasti akan kembali ke jalan yang benar.

“Sekarang Euis berdua dengan seorang teman mengontrak di daerah Tomang dan bekerja sebagai buruh Toko di Pasar Raya sini. Euis sama teman sudah tidak menjalankan hal seperti itu lagi, Euis ingin kembali kepada jalan yang benar. Jika saja ada seorang Laki – laki yang mau menerima apa adanya”

Sejurus kemudian pandangan Euis begitu hampa , ada berbagai banyak beban hidup tergurat dalam wajahnya, ingin rasanya mengakhiri hidup tetapi bagaimana dengan nasib kedua orang tuanya yang sangat dicintainya.

Aku mengerti apa yang sedang ada di pikran Euis sekarang, dan apa harapanya ke depan. Tiba – tiba terlintas niatan suci untuk mengangkatnya dari jurang kenistaan yang akan membuat malu kedua orang tuanya di kampung jika mengetahui bahwa Euis pernah menjadi wanita tuna susila.Jika niatan suci ini kulaksanakan salahkah aku, yang berarti juga aku harus mengorban satu cinta seseorang, satu hubungan percintaan yang teramat unik, kadang benci, kadang rindu, kadang putus, kadang nyambung lagi, tetapi yang jelas satu sama lain saling mencintai.

“ Haruskah aku memutuskan hubungan ini? Tetapi tidak, tidak..! Aku mencintai Lisa sampai kapan pun” pikirku

Tetapi entah dorongan apa yang membawaku, menjual mobil kesayanganku dan menjemput Euis dan kuajak menemui orang tuanya di kampong.

“Aa, Euis  tak mau pulang kampung!Euis mali sama Abah dan Ambu. Cukup Euis mengirimi uang saja tiap bulanya untuk mereka” Euis merajuk dan memohon.

“Ada hal yang ingin Aa katakan sama Abah Ambu di kampong! Aa ingin melamar Euis. Maukah Euis jadi istri Aa” pintaku

Tentu saja Euis terkaget mendengarnya, dia tidak menyangka Aku akan melakukan hal  itu.

“Apakah Aa tidak akan malu punya istri seperti Euis? Dan tidak akan menyesal  di kemuadian hari?”

“Tidak.., Euis! Aa sudah pikirkan itu masak – masak. Aa akan terima semua resikonya”

Tentu saja Euis menerima lamaranku karena sudah lama dia naksir berat kepadaku.

Pernikahan di kampung diselenggarakan dengan sangat sederhana, sengaja Aku tidak memberitahukan kerabatku di Jakarta, termasuk juga orang tuaku. Karena aku telah terusir dari rumah, karena Papa dan Mama mencoret dari daftar warisan keluarga, karena mereka terkena hasutan Kakak ipar yang ingin menguasai warisan sepenuhnya dan Lisa pun tak kuberitahukan, dan bagi Lisa itu bukanlah hal yang aneh jika aku tiba – tiba menghilang.

Dengan modal hasil penjualan mobil, kupergunakan untuk membuka usaha peternakan sapi di kampong dan mertuaku – Abah dan Ambu–banyak membantu usaha yang mulai berkembang.

Aku dan Euis pun membuka lembaran hidup baru dengan melupakan pengalaman hidup yang teramat pahit.Dan sejak saat ini jalan hidupku berubah haluan dari pekerja kantoran menjadi seorang peternak sapi.

Jakarta, 20 Mei 1999

 

 

 

 

 

 

 

6 pemikiran pada “Pertemuan Yang Mengubah Jalan Hidupku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s