Sahibul Hikayat : Genre Cerita Lisan Betawi Yang Sudah Hampir Punah


radioMalam jum’at kemarin secara tiba – tiba saya obrak – abrik gudang rumah, masih belum kepikiran mau cari  apa, ya? tak sengaja tersentuh sebuah radio FM yang kupikir sudah rusak tetapi setelah otak-atik yang ternyata hidup, alias berbunyi. Gak sengaja juga langsung dapat channel Bens Radio, radionya orang Betawi. Pas tuning, ada acara Sahibul Hikayat. Apa sih sebenarnya sahibul hikayat itu. Menurut Ensiklopedi jakarta, sahibul hikayat adalah salah satu sastra lisan betawi yang berasal dari timur tengah. Sedang arti sohibul hikayat sendiri berasal dari bahasa arab, yang berarti yang “yang mpunya cerita”.

Sumber cerita yang dibawakan oleh sahibul hikayat di antaranya dari kisah – kisah persia, seperti kisah seribu satu malam, Nurul laila, Alfu Lail wal lail. Pembawa cerita sahibul hikayat yang cukup terkenal ada H. sofyan Jait, yang merupakan juga anak dari muhammad jait yang juga pembawa cerita sohibul hikayat yang wafat tahun 1970.

Di Jawa Barat juga ada genre cerita lisan mirip yang biasa disebut “Dongeng Sunda”,namun dongeng Sunda biasa bercerita tentang kehidupan masyarakat sunda dan tentang dunia silat. Dalam Dongen Sunda, terkadang si pendongeng biasa menirukan suara karakter wanita (suaranya seperti wanita, tetapi bukan suara waria), karakter suara anak-anak, orang tua dan orang masih muda. Lebih banyak dialognya.

Mengenag genre cerita ini, jadi ingat ketika masih anak – anak di saat terang bulan. Saya biasa sharing cerita antar teman, cerita boleh fiktif, horor atau pengalaman liburan sekolah. Dengan duduk melingkar dibawah temaram rembulan masing bercerita, tetapi terkadang anak yang paling tua yang sering bercerita, karena anak yang paling tua input sumber ceritanya lebih banyak. Yang paling seru, yaitu cerita horor yang biasa kami bawakan malam jum’at. Selesai mendengar cerita ini pun, kami masing pulang terbirit – birit ke rumah masing – masing.

Dengan semakin pesat perkembangan teknologi komunikasi, genre cerita lisan ini semakin punah, perlu ada suatu gerakan untuk melestarikan genre cerita lisan ini. Mendengarkan cerita lisan sangat baik untuk mengendorkan urat syaraf yang tegang, dapat belajar bersosialisasi dengan melakukan interaksi secara langsung, menambah wawasan dan pengetahuan dan lain – lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s