Sang Pengasuh


Banyak hal yang membuatku heran, sudah sebesar ini. Aku  harus tetap  tinggal di panti asuhan. Sang Ibu Pengasuh teramat menyayangiku begitu berlebihan, melebihi anak panti  lainnya. Ketika masih kecil, tidak sedikit orang tua yang hendak  mengadopsiku,  tetapi Ibu Pengasuh selalu menolaknya dengan berbagai alasan.

“Izinkan aku untuk keluar dari panti ini, Bu!Saya sudah besar, sudah saatnya saya hidup mandiri,”suatu ketika,  kuberanikan untuk bicara

“Tidak, Bastian!Ibu tak akan mengizinkanmu pergi kemana pun, Ibu tak mau kehilanganmu.”

Itulah jawaban yang ke sekian kalinya yang dilontarkan kepadaku

“Kenapa, Bu? aku tak mau selalu merepotkan Ibau di sini”

“Ibu tidak merasa direpotkan, selesaikan dulu kuliahmu!Nanti setelah lulus dan sudah bekerja, Ibu tak keberatan kamu meninggalkan panti ini”

Aku tertegun sejenak. Jika dipikir-pikir benar juga apa yang dikatakannya. Untuk menyelesaikan kuliahku masih  dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Panti inilah yang selama ini membiayainya.

Hubunganku dengan Sang Ibu Pengasuh pun semakin mesra.Terkadang aku   malu jika pergi berdua bersama Ibu Pengasuh.Orang mengira  kami adalah pasangan kekasih, tetapi aku menganggapnya sebaga seorng ibu yang telah membesarkanku. Dialah satu-satunya keluargaku di dunia. Aku sebatang kara, karena sejak kecil aku telah kehilangan kedua orang tuaku, yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Di usianya yang sudah 45 tahun, Ibu Pengasuh masih terlihat cantik. Orang mengira usianya seperti usia 25-an. Demi membesarkanku , Ibu Pengasuh rela tidak  menikah , meskipun banyak lelaki yang sudah melamarnya.

*

“Ibu, perkenalkan ini Sisca,”Kuperkenalkan kekasihku.

Sang Ibu Pengsuh hanya terdiam,  pandangan matanya tajam bak harimau hendak menerkam mangsanya. Dari ujung kaki hingga ujung rambut diperhatikannya gadis itu dengan tatapan sinis.

“Ada apa dengan wanita ini? tatapan seperti menelanjangiku dan tidak menyukai kehadiranku,” Sisca mengggerundel dalam hati dan tidak berani membalas tatapan wanita itu.

Aku  heran dengan sikap bu  Pengasuh. Baru pertama kali ini aku memperkenalkan pacarku kepada  Ibu Pengasuh. Mungkin insting seorang ibu mengisyaratkan bahwa gadis pujaan anaknya bukanlah  orang  baik – baik. Benar juga seminggu kemudian Sisca meminta putus denganku. Entah apa alasanya ,  tetapi aku mengira mungkin karena kejadian pertemuannya dengan Sang Ibu Pengasuh.

**

“Ibu tak mau lagi kamu memperkenalkan gadis-gadis itu kepadaku!”dengan wajah cemberut ibu pengasah memperingati

“Kenapa, Bu?” aku heran

“Pokoknya Ibu tidak mau kamu pacaran!Kamu selesaikan dulu kuliahmu. Ibu tak mau kuliahmu terbengkalai hanya karena perempuan!”nada suaranya meninggi dan tegas tak seperti biasanya, yang selalu lemah lembut.

Untuk beberapa saat kami pun bersilang pendapat. Kesabaranku pun sudah mulai luluh dan…

“Jika begitu hari ini juga, saya keluar dari panti ini!”kuputuskan untuk pergi,  kukemasi pakaian dan barang-barangku di kamar. Tanpa pamit dan dengan diiringi rasa marah , kustarter motorku dengan ngebut kutinggalkan panti asuhan yang telah banyak meninggalkan kenangan indah masa kanak-kanakku.

Sang Ibu Pengasuh menatap arahku berlalu, hatinya begitu hancur,  wajah ayunya diselimuti kesedihan , namun tak kuasa mencegah kepergianku.

Bas,betapa aku amat mencintaimu. bukan cinta seperti ibu kepada anaknya, aku mencintaimu layaknya seorng kekasih. Engkau telah dititipkan kepadku sejak kecil beserta panti asuhan ini, karena kedua orang tuamu   ingin aku jadi menantunya. Kubesarkan engkau dengan segenap jiwa ragaku, dan aku kan menunggumu di sini, sayang! Kan kujelaskan semuanya padamu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s