Prompt # 22 : Bahtera Pertobatan


bloatingOmbak semakin terdengar keras menghantam dinding kapal, kecemasan terlihat jelas pada raut wajah penumpang, begitu juga aku. Kucoba untuk berdo’a sebisanya. Penumpang lainnya juga terlihat komat-kamit. Kecemasan  semakin menggila kala hujan mengguyur disertai angin kencang. Tak lama kemudian petir terdengar, kilatan-kilatan apinya  membuat kapal menjadi terang  sementara.

“Akan terjadi badai!semua siap-siap!”teriak  Mualim.

“Astagfirullahaladzim”kusebut nama Tuhan, yang sudah lama tak pernah kusebut.

“Kita semua akan mati!”teriak penumpang yang berpakain perlente, sambil berpegangan pada tiang dengan wajah ketakutan.

“Syukurlah akhirnya azab itu akan datang juga”seorang wanita keluar dari lobby kapal, melihat keadaan sekelilingnya.

“Tuhan ampunilan dosa-dosaku karena selama hidupku tidak pernah mengenalmu.Selama hidupku kuhabiskan untuk melacur.Kita disini berlima dalam rangka pertobatan. Akuilah dosa-dosa kalian!”wanita itu menunjuk satu persatu wajah-wajah ketakutan.

Mualim mengingat-ingat dosa yang pernah ia lakukan, ia berkata setengah berbisik, “banyak sekali dosa yang telah lakukan, aku sebagai seorang suami yang menelantarkan istri dan anak, tidak memberikan nafkah lahir bathin,  sering berbuat kasar kepada mereka dan melakukan maksiat di mana-mana.Ampunilah dosa-dosaku Tuhan.”

Seseorang Berpakaian Perlente  pun mulai mengingat dosa-dosa,”Ya Tuhan betapa besar dosa-dosaku. Aku telah korupsi uang negara  yang tidak sedikit dan sebagai koruptor yang licin, aku tidak pernah tertangkap. Aku berada di kapal ini untuk melakukan pertobatan.”

“Sekarang tinggal giliranmu untuk mengakui dosa-dosamu!”ketiga orang itu menatapku dengan pandangan serius dan memaksa. Kutatap wajah mereka, ternyata mereka bukanlah orang yang asing bagiku. Dengan perasaan takut kubalikkan badanku membelakangi mereka, tiba-tiba salah satu dari mereka  mendorongku ke laut.

“Tolong”teriakku berharap agar mereka menolongku, tetapi ternyata mereka diam saja. Mereka pun terseyum puas, meninggalkanku dalam gelombang air yang besar. Aku pun teringat dengan istri  Mualim kapal yang kuselingkuhi dan kuperas hartanya, aku pun teringat dengan ibu Pelacur tadi yang kusia-kusiakan hidupnya. Akh.. ternyata pelacur itu anakku. Aku bertindak sebagai gigolo untuk istri Si Perlente. Kupikir mereka tak mengenalku, karena aku operasi wajah.

(300 kata)

8 pemikiran pada “Prompt # 22 : Bahtera Pertobatan

  1. mmmm, masih banyak kata yang ‘boros’ sih, tapi idenya keren🙂. oiya, setau saya, kalau udah ada kata pemilik, akhiran ‘nya’ itu tidak perlu –> istrinya Mualim –> istri Mualim🙂. IMHO ya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s