Janji Allah Yang Menjamin Memberi Rezeki


DEDEPercayakah anda bahwa Allah SWT menjamin rezeki kita semua sebagai hamba-Nya. Rezeki yang ditaburkan Allah SWT pasti adanya, hanya saja kita malas untuk mencarinya. Ada banyak macam rezeki di dunia ini, karena kemalasan manusia saja yang membuat manusia agak sulit untuk mendapatkannya, dan terkadang pula mereka ambil jalan pintas untuk meraihnya, yaitu dengan cara-cara yang tak halal.

Benar juga kata seorang kawan, rezeki sudah ada yang mengatur jadi jangan takut untuk menikah dan punya anak banyak.

Apakah janji Allah yang menjamin memberi rezeki kepada hamba-Nya itu bisa dibuktikan? Jika tidak percaya , silahkan kita buktikan sendiri..

Sebagaimana Imam Az Zahidi pernah membuktikannya. Hal ini bukannya dia tidak percaya, namun semata-mata untuk memantapkan keyakinan bahwa Allah selalu menjamin rezeki kepada manusia.

Suatu ketika Az Zahidi melakukan petualangan, naik turun bukit, dan akhirnya sampailah di sebuah goa. Di tempat itu tak ada manusia yang pun yang dijumpainya. Dia berkata dalam hati, “Aku hendak mengamati bagaimana Allah memberiku rezeki di tempat ini , tempat yang sama sekali tak dijumpai tanda-tanda kehidupan.”

Sehari dua hari Az Zahidi berada dalam kesendirian. Perutnya lapar dan kerongkongan kering. Namun ia tetap yakin bahwa Allah akan memberikan rezeki kepadanya dengan  cara yang tak disangka-sangka. Keyakinannya begitu kuat. Sehingga pada hari ketiga ada segerombolan pedagang (tersesat jalan) dan sampai pula di tempat itu. Mereka sibuk mencari tempat untuk istirahaty ang dianggap aman. Lalu menemukan mulut goa . Mereka masuk ke dalam goa dan menemukan Az Zahidi terbaring tanpa bersuara sedikit pun. “Wahai engkau, siapakah dirimu?” Tanya mereka. Namun Az Zahidi tak menjawab. Mulutnya sengaja ditutup rapat-rapat.

Mereka berbicara dengan sesama temannya, “Kasihan orang ini. Dia hampir mati.”

“Goa ini terlalu lembab. Lihatlah tubuhnya kedinginan. Kita harus segera membuat bara api untuk menghangatkan!” kata yang lainnya.

Kemudian yang lainnya mempersiapkan susu. Ada yang menyediakan  madu untuk memulihkan tenaga orang tersebut. Namun Az ahidi menutup mulutnya rapat-rapat. Mereka harus memaksa agar madu dan susu bisa masuk ke dalam mulut sehingga orang itu tidak mati,

“Giginya dirapatkan.Sebaiknya kita cungkil saja sehingga memudahkan memasukkan makanan ke dalamnya!” kata mereka.

Sebelum dicungkil, Az Zahidi keburu membuka mulutnya dan tak kuat menahan tawa. Orang – orang yang tersesat menjadi heran. Dengan agak penasaran, salah satu mereka menghardik, “ Apakah kau sudah gila!

“Tidak, aku tidak gila. Aku masih waras.”

“Apa yang kau lakukan di dalam goa ini?”

“Aku ingin membuktikan sampai sejauh manakah Allah menjamin rezeki buatku dan buat hamba-Nya. Ternyata dengan cara apa pun, Allah tetap berkuasa memberi rezeki kepada hamba-Nya,” jawab Imam Az Zahidi.

Seperti juga firman Allah SWT dalam  Surah Huud ayat 6 :

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya . Semua tertulis dalam kita yang nyata (Lauh Mahfuzh)”

Dalam Surah At – Talaq Ayat 2 – 3 Allah SWT berfirman :

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikanNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, nescaya Allah mencukupkan keperluannya.”

So, jika demikian untuk apalagi kita bermalas – malasan dan meragukan rezeki yang sudah disediakan, cepatlah cari dan kejar rezeki itu. Orang Indonesia bukanlah orang yang malas, buktinya kita punya peribahasa yang membuktkan bahwa kita bukan orang malas.

“Jangan bangun siang, nanti rezeki keburu dipatok ayam,” artinya kita harus berlomba dalam mencari rezeki jangan sampai rezeki itu keburu disambar orang, tetapi tentu  juga dengan tidak mengecil arti Ukhuwah Islamiyah dalam memperebutkan reeki tersebut.

Selamt Pagi, Selamat Berebut Rezeki!

Parung, 10 Maret 2015

Iklan

Waspadai Biskuit Dan Rendang Palsu


Lebaran kali ini, aku sengaja berkunjung ke rumah  teman – teman yang ada di pinggiran jakarta, karena sempat denger berita, baca di radio, denger di koran ehh salah maksudnya baca di koran denger di radio, bahwa baru – baru sedang update nya berita – berita mengenai produk – produk makanan yang berformalin atau mengandung boraks. Kalau dipikir memang orang Indonesia ini serba kreatif, apa aja bisa dibikin duit, intinya hukum ekonomi benar diterapkan, yaitu dengan modal yang sekecil – kecilnya dan meraup keuntingan yang segede – gedenya. Banyak Ibu dan juga tak terkecuali kita khawatir jika membeli produk makanan, mulai dari cingcau, daging, ikan dan  makanan lainnya yang beredar di pasaran mengandung zat berbahaya. Kejam memang orang Indonesia ini, dengan upaya mencari nafkah tetapi dengan jalan meracuni sesamanya, apa bedanya dengan koruptor? sama – sama biadab dan kejinya. Lebaran kali ada isu mengenai biskuit dan rendang palsu. 

Pada suatu ketika saya berkunjung ke rumah salah seorang teman yang memang sudah cukup akrab saya disediakan biskuit dan wafer, karena penasaran dengan berita – berita beredar tentang biskuit palsu ini, saya jadi penasaran. Langsung saja biskuit  dan wafer tersebut saya buka,,,,! ternyata benar – benar palsu,,nih…! Isinya Rengginang dan peyek….he he he..dan Rendang juga demikian,,saya pikir isinya daging semua, ternyata campur kentang he he he,,Selamat idul Fitri,,yang bukan bajunya yang baru atau makanannya yang serba enak yang penting keikhlasan dalam memeriahkan kemenangan setelah selama sebulan penuh kita menahan lapar , haus dan hawa nafsu,,semoga amal ibadah kita diterima di sisi Nya,,!

Yu, Baca Shalawat


SHALAWAT IBRAHIMIYAH

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ
في العالمين إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

Artinya : Ya Allah , berilah kasih saying kepada junjungan kita nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Enfkau memberi kasih sayangmMu kepada junjungan kita Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah kepada junjungan kita nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberkati junjungan kita nabi Ibrahim dan kelurganya diantara makhluk makhlukmu, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

SHALAWAT NARIYAH TAFRIJIYAH

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Artinya: Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau. Continue reading “Yu, Baca Shalawat”

Download Hadits Shahih Bukhari Muslim


Hadits Shahih Bukhari Muslim

hadits shahih bukhari muslim

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya” (An Nahl:44)

Al-Qur’an menjelaskan syariat secara umum sedangkan As-Sunnah (hadits) merinci dan menjabarkannya. Allah Subhanahu Wata’ala menjamin untuk menjaga kemurnian agama dengan penjagaan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikir dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Al Hijr:9)

Menurut keterangan ulama, yang dimaksud dengan Adz-Dzikr adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Melalui para ulama dan Ahli Hadits yang terkenal ketakwaannya, kuat hafalannya dan mencurahkan seluruh kehidupannya untuk meneliti dan memilih hadits mana yang baik (shahih), lemah (tidak diterima periwayatannya) dan palsu, Allah Subhanahu Wata’ala menjaga keduanya sampai hari kiamat.

Adalah Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, dua orang ulama ahli hadits yang pertama kali menyusun kitab hadits yang hanya berisikan hadits-hadits shahih sesuai dengan syaratnya. Metode yang ditempuh dalam penyusunan kitab tersebut adalah dengan memilih periwayat-periwayat yang harus memenuhi persyaratan hadits shahih yaitu sanadnya bersambung sampai Rasulullah, dinukil dari periwayat yang takwa, kuat hafalannya, tidak mudah lupa, tidak ganjil (menyelisihi hadits shahih yang lebih kuat) dan tidak cacat.

Adapun Al-Imam Al-Bukhari dalam penyusunan kitabnya menentukan persyaratan lagi yang lebih ketat. Diantaranya periwayat-periwayat (rawi) haruslah sejaman dan mendengar langsung dari rawi yang diambil hadits darinya. Kelebihan kitab Shahih Al-Bukhari adalah terdapat pengambilan hukum fiqih, perawinya lebih terpercaya dan memuat beberapa hikmah dimana unsur-unsur ini tidak ada pada Shahih Muslim.

Jadi secara umum kitab Shahih Al-Bukhari lebih shahih dibanding kitab Shahih Muslim. Namun ada beberapa sanad dalam Shahih Muslim yang lebih kuat daripada sanad Shahih Al-Bukhari. Kiranya cukuplah kesepakatan umat (ulama) sesudah mereka akan keshahihan kedua kitab tersebut dan menilai keduanya kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’an sebagai keistimewaan tersendiri. Kecuali golongan SYI’AH yang tidak mengakui keberadaan keduanya. Meskipun demikian Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim tidaklah memuat semua hadits shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Al-Bukhari. Beliau hanya memasukkan sekian ribu hadits karena khawatir kitabnya terlalu “besar” sehingga membosankan pembaca. Demikian juga Al-Imam Muslim, beliau menegaskan bahwa beliau hanya menyusun hadits-hadits yang disepakati keshahihannya.

Masih banyak hadits shahih yang tidak masuk ke dalam kedua kitab tersebut. Al-Imam Al-Bukhari mengatakan hadits-hadits shahih yang beliau tinggalkan lebih banyak karena beliau menghafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits lemah. Sementara kitab Shahih Al-Bukhari sendiri memuat 4000 hadits shahih tanpa pengulangan dan 7275 hadits shahih dengan pengulangan.

Sedangkan kitab Shahih Muslim memuat 4000 hadits shahih tanpa pengulangan dan 12.000 hadits shahih dengan pengulangan. Lalu dimanakah kita bisa melacak hadits-hadits shahih lainnya yang lolos dari saringan Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim?

Kita dapat melacaknya di kitab-kitab hadits yang terkenal seperti Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, Kitab-kitab sunan yang empat, Mustadrak Al-Hakim, Sunan Al-Baihaqi, Sunan Ad-Daruquthni, dan lainnya. Meskipun demikian, para ulama setelah mereka terus meneliti akan keshahihan kitab-kitab ini terutama kitam Mustadrak Al-Hakim dan Sunan At-Tirmidzi yang -menurut para Ulama- penulisnya kurang ketat dalam menilai hadits (gampang menilai shahih sebuah hadits). Wallahu a’lam.

Sumber Bacaan:
Al Manzhumah Al Baiquniyyah
Taisirul Musthalahil Hadits
Al Baitsul Hatsits, dll

Dikutip dari :
Majalah AsySyariah Halaman 50
Vol I/No 02/September 2003/Sya’ban 1424 H

Download e-book Hadits Shahih Bukhari Muslim disini

or klik link :

http://www.ziddu.com/download/6349638/Hadist-Shahih-Bukhari-Muslim.zip.html

Adab dan Sebab terkabulnya Doa


Adab dan Sebab terkabulnya Doa – Ini adalah satu buku saku yang ringkas yang menjelaskan tentang do’a, adab adabnya, sebab sebab terkabulnya do’a, waktu waktu yang mustajab, penghalang penghalang terkabulnya do’a, dll. Kaum muslimin perlu sekali mengetahui tentang masalah ini karena tidak luput untuk berdo’a memohon permintaan kepada Allah. Ingatlah baik baik janji Allah ini (yang artinya) bagi orang yang berdo’a :
Adab dan Sebab terkabulnya Doa
“Dan Rabb Mu berfirman : ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu’min : 60)
Dalam berdo’a harus bersabar, jangan minta cepat terkabulnya do’a yang menyebabkan kita meninggalkan do’a. Ingat lagi baik baik firman Allah ini (yang artinya) :
“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar.” (QS. Al Mu’min : 55)

* ADAB DAN SEBAB TERKABULNYA DO’A **
Ust. Yazid di bukunya tersebut menjelaskan 24 faktor faktor penyebab terkabulnya do’a. Berikut beberapa adab dan sebab terkabulnya doa:
– Ikhlas karena Allah semata
– Mengawali dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu diikuti dengan bacaan shalawat atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
– Bersungguh sungguh dalam memanjatkan doa, serta yakin akan dikabulkan
– Mendesak dengan penuh kerendahan dalam berdoa dan tidak terburu buru
– Tidak boleh berdo’a dan memohon sesuatu kecuali hanya kepada Allah semata
– Merendahkan suara ketika berdoa
– Menghadap kiblat
– Mengangkat kedua tangan ketika berdoa
– Makanan dan minuman yang dikonsumsi serta pakaian yang dikenakan harus berasal dari usaha yang halal
– Menjauhi segala bentuk kemaksiatan
– Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar
– dll
** WAKTU, KEADAAN, DAN TEMPAT DIKABULKANNYA DO’A **
Dijelaskan ada 38 macam, sebagiannya saya kutipkan disini:
– Malam lailatul qadar
– Pertengahan malam terakhir, ketika tinggal sepertiga malam yang akhir
– Waktu antara adzan dan iqamah
– Pada saat setiap kali dikumandangkan adzan
– Pada saat turun hujan
– Pada saat jihad fii sabilillah
– Ketika bersujud dalam shalat
– Do’a di bulan Ramadhan
– Di tempat berkumpulnya kaum Muslimin di majelis majelis ilmu
– Do’a keburukan dari orang yang dizhalimi (dianiyaya) atas orang yang menzhalimi
– Ketika minum air zam zam disertai dengan niat yang tulus
– dll
** PENGHALANG TERKABULNYA DO’A **
– Makan dan minum dari yang haram, mengkonsumsi barang haram berupa makanan, minuman, pakaian, dan hasil usaha yang haram
– Minta cepat terkabulnya do’a yang akhirnya meninggalkan do’a
– Melakukan maksiat dan apa yang diharamkan Allah
– Meninggalkan kewajiban yang telah Allah wajibkan
– Berdo’a yang isinya mengandung perbuatan dosa atau memutuskan silaturahmi
– Tidak bersungguh sungguh dalam berdoa
– Lalai dan dikuasai hawa nafsu

MAKNA SHALAT KHUSYUK


(ika ) Mengapa banyak orang yang rajin shalat masih tetap korupsi? Mengapa banyak orang yang gemar shalat masih suka melakukan kemaksiatan? Mengapa banyak orang yang terbiasa shalat tapi sakit-sakitan? Bila hal itu ditanyakan kepada Ustadz Ansufri Idrus Sambo, niscaya ia akan menjawab, ”Sebab shalat orang itu belum khusyuk.” Menurut lelaki kelahiran Medan, Sumatera Utara, 20 November 1970, kekhusyukan dalam shalat merupakan kunci agar shalat itu benar-benar membekas seperti penegasan Allah dalam Alquran, ”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”

Lalu, mengapa banyak orang yang belum khusyuk shalatnya? Hal itu, kata alumnus Jurusan Matematika, FMIPA Institut Pertanian Bogor itu, karena mereka belum memahami tatacara shalat yang khusyuk. ”Betapa banyak orang yang setiap hari mengerjakan shalat, namun mereka tidak mengetahui cara mencapai shalat yang khusyu,” ujarnya.

Hal itu pun pernah dialami oleh lelaki yang pernah nyantri di Pesantren Ulul Albab, Bogor itu. Bertahun-tahun ia mencoba memahami arti khusyuk dan mencari cara untuk menggapai shalat yang khusyu’. Namun ia tidak juga menemukannya. ”Saya bertanya kepada banyak ustadz. Namun jawaban yang saya peroleh tidak memuaskan saya. Karena itu saya terus mencarinya,” papar ayah empat anak itu.

Lelaki yang akrab dipanggil Ustadz Sambo itu melakukan berbagai cara untuk mencari dan menemukan makna khusyu’ dalam shalat. Selain bertanya kepada para ustadz, ia pun rajin membaca berbagai macam buku. Cara lainnya yang rutin ia lakukan adalah melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ia melakukannya di Masjid Ulul Albab, setiap tahun sejak tahun 1993.

Ketika tahun 1999 ia berkesempatan menunaikan umrah Ramadhan, maka ia pun memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan i’tikaf. ”Setelah mencari selama 13 tahun, Alhamdulillah, akhirnya pada tahun 2005, sewaktu iktikaf Ramadhan, saya menemukan makna dan cara menggapai khusyuk dalam shalat,” kata lelaki yang pernah belajar Ilmu Bahasa Arab dan Ilmu Tafsir selama satu tahun di Jordan.

Selama ini, kata lelaki yang tengah menyelesaikan program magister di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, khusyuk itu terlalu abstrak, padahal sebetulnya tidak. Nabi sewaktu jadi imam, mendengar anak menangis. Lain waktu, ia shalat sambil menggendong cucunya. ”Khusyuk itu adalah kenikmatan berdialog dengan Tuhan. Jadi, bukan berarti tidak ingat apa-apa, tapi hal-hal lain kalah dengan nikmat dialog itu,” tegasnya.

Sambo lalu memberikan rahasia singkat cara mencapai shalat khusyuk. Misalnya, tidak terburu-buru, tidak dalam keadaan perut lapar, tidak menahan buang angin ataupun buang air kecil, mengenakan pakaian terbaik, matikan ponsel, serta memahami bacaan shalat. Selain itu, bacaan shalat hendaknya perlahan-lahan, jangan terburu-buru. ”Lakukanlah shalat dengan bacaan yang menghiba, memelas, merintih kepada Allah. Sebab, Nabi mengatakan, ‘Allah senang mendengarkan hamba-Nya merintih’,” papar Sambo.

Setelah shalat ditunaikan dengan sebaik-baiknya, maka shalat itu harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni meninggalkan maksiat. ”Inilah salah satu hikmah terpenting shalat,” tuturnya.

Di tengah kesibukannya sebagai juru dakwah, ustadz yang hobi bulutangkis itu telah memformulasikan langkah praktis yang teruji untuk mencapai kekhusyukan dalam melaksanakan shalat, yang dikenal luas dengan nama Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN). ”Insya Allah formula ini apabila diamalkan dengan benar dapat membangkitkan kesehatan dan kekuatan diri, dan pada akhirnya dapat memperoleh kesuksesan hidup dunia dan akhirat,” paparnya.

Ia telah memberikan pelatihan manajemen shalat khusyuk kepada ribuan orang. Baik karyawan perusahaan-perusahaan besar maupun jamaah majelis ta’lim. ”Kami tengah menyiapkan acara gerakan nasional shalat untuk menyelamatkan bangsa, yang insya Allah akan digelar pada Mei 2007,” ujarnya.

Dengan memadukan logika matematika dan pemahaman terhadap dalil (Alquran dan hadis), Sambo mengembangkan berbagai program yang sampai sekarang terus digelutinya. Ia misalnya, membuat model pemberdayaan masyarakat miskin secara terpadu melalui Yayasan HILAL yang dipimpinnya. Selain itu juga mengembangkan metode yang disebutnya “Buraq”, sebuah cara praktis untuk menterjemahkan Alquran secara mudah sistem 16 jam).

Kini Sambo berencana membuat Pesantren Imam Masjid. ”Saya berharap pesantren tersebut akan menghasilkan imam-imam masjid yang benar pemahaman agamanya dan khusyuk dalam shalatnya,” ujarnya. Semoga terlaksana dan barokah.

Ir Ansufri Idrus Sambo Tempat tanggal lahir: Medan, 20 November 1970
Pendidikan: Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, IPB
Istri: Rani Sinta Kusumawangi
Jumlah anak: empat orang
Jabatan: Pimpinan Yayasan Hilal

sumber : http://manajemensholat.com

KEMISKINAN CENDURUNG KUFUR?


Banyak orang berhujah tentang bahaya kemiskinan dengan ungkapan:

كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

Bermaksud: “Hampir-hampir kefaqiran itu membawa kepada kekufuran.”

Namun hadis ini adalah Hadis Tersangat Lemah.

Menurut pengarang Tuhfath al-Ahwazi Syarh Jami` Tirmizi ketika menghuraikan hadis ke 3525 Tirmizi, hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nu`aim dalam al-Hilyah daripada Anas sebagaimana tersebut dalam al-Jami` al-Saghir. Al-Munawi ketika menghuraikan hadis ini menjelaskan bahawa: sanadnya adalah amat lemah (wahin). Al-Qari pula mentafsirkan kefaqiran itu sebagai kefaqiran jiwa dan hati bukannya kefakiran harta. Kefakiran jiwa sememangnya membawa kepada kekufuran.

Justeru, hadis ini tidak mampu dibuat hujah untuk menyatakan bahaya kemiskinan, malah sebaliknya yang lebih bahaya ialah kemewahan dan kesenangan sebagaimana sabit dalam banyak hadis yang sahih.Antaranya:

‏لَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْM

Maksudnya: “Bukan kemiskinan yang ku bimbang menimpa kamu tetapi yang aku bimbang ialah dibentangkan di hadapan kamu kemewahan dunia sebagaimana telah dibentangkan kepada umat sebelum kamu, lalu kamu berlumba-lumba mengejarnya sebagaimana umat dahulu kala juga berlumba-lumba mengejarnya, lalu ia membinasakan kamu seperti mana umat dahulu kala juga telah dihancurkan oleh sifat sedemiian.” (Hadis Bukhari-Kitab al-Jizyah no 2924)

Walaupun begitu, Islam tidak juga menggalakkan umatnya menjadi miskin semata-mata. Ini kerana Nabi berdoa:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Maksudnya: “Ya Allah. Saya berlindung dengan Kamu daripada kekufuran dan kefaqiran dan saya berlindung dengan Kamu daripada azab kubur. Tiada Ilah melainkan Kamu.” (Hadis riwayat Abu Dawud, Nasaie dan Ahmad)

Islam juga tidak menggalakkan umatnya menjadi kaya semata-mata sebagaimana hadis sebelumnya. Yang digalakkan ialah samada orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar. Orang kaya yang bersyukur ialah orang kaya yang menggunakan hartanya pada tempat-tempat yang diarahkan oleh Alah untuk disalurkan. Orang miskin yang bersabar pula ialah orang miskin redha dengan kemiskinannya lalu tidak melakukan perkara haram demi untuk sesuap nasi. Malah sekiranya dibuat perbandingan, manakah yang lebih afdhal kaya yang bersyukur atau miskin yang bersabar? Maka majority ulama berpandangan kaya yang bersyukur lebih afdhal kerana manfaat kekayaannya melimpah dan dapat dinikmati oleh orang lain.