Istimewa

Belajar Motivasi Hidup Dari Sang Penggali Kubur


Untuk belajar kita tidak  mengenal batas usia, tua atau muda, masih harus belajar, hingga kita sudah tidak bisa belajar lagi, dengan kata lain sudah ke liang lahat, barulah kita berhenti dari belajar. Ternyata semakin banyak kita belajar, semakin bertambah pula ilmu, semakin banyak kekurangan. Pelajar yang baik tidak akan terhenti pada satu tujuan atau hasil,  akan terus kita mencari , mencari dan mencari lagi. Serakah atau haus ilmu, agama amat menganjurkannya, tetapi kalau haus harta,  agama amat melarangnya, apalagi sampai melakukan tindakan korupsi yang merugikan banyak pihak termasuk rakyat.

Maslahnya untuk apa kita belajar, , ya pastinya supaya kita pintar, Jika sudah pintar yang diharapakan supaya kita bisa hidup dari kepintaran kita ini, jangan dipergunakan untuk membodohi orang. Alangkah bagusnya jika kepintaran dapat dipergunakan untuk hal – hal yang positif, dan dapat ditransfer kepada orang lain, agar orang lain juga bisa hidup dari kepintarannya itu. Banyak contoh kepintaran yang ditularkan, guru transfer ilmunya kepada muridnya, penulis  transfer ilmu menulis kepada orang yang berminat mejadi penulis dsb.

Islam sangatlah  menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu,Hadist Rasullah , “Tuntutlah Ilmu walau sampai ke Negeri China”, meskipun diragukan kesahihan hadist ini dan masih dipersoalkan oleh para alim ulama. Tetapi hadist ini telah membuktikan bahwa negeri China itu telah mengalami kemajuan yang pesat. Ayat  Al -Qur’an yang pertama diturunkan berisi perintah  bahwa kita harus selalu “Membaca”. Jika urutan pertama itu menggambarkan  sebagai sesuatu yang amat  penting, maka membaca adalah merupakan bagian dari ajaran Islam yang harus  mendapatkan perhatian saksama. Apalagi pada kenyataannya, kemampuan membaca selalu merupakan pintu meraih sukses. Siapapun yang  berhasil dalam  berbagai lapangan kehidupan ini,  ternyata diwali dari kemampuannya  membaca keadaaan secara benar dan tepat.Dengan membaca berarti kita dapat memperbanyak ilmu, karena sebagian besar orang – orang pintar men-transfer ilmu melalui media “buku”. Continue reading “Belajar Motivasi Hidup Dari Sang Penggali Kubur”

Mengapa Harus Berbohong?


Bohong (Dusta)  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya, dan kebohongan adalah perihal bohong; sesuatu yg bohong: ~ nya suatu ketika akan ketahuan juga;

Bohong sering dilakukan oleh makhluk yang bernama manusia ini, suami berbohong kepada istrinya, istri berbohong kepada suaminya, pedagang berbohong kepada pembelinya, dan kebohongan – kebohongan lainnya. Baik berbohong secara total atau berbohong sedikit, artinya kebenaran yang ditambah kebohongan sedikit. Agama Islam, memasukkan bohong itu sebagai segala sesuatu perbuatan dosa. Berikut ini AL-Qur’an dan Hadist yang membahas tentang kebohongan :

QS. 17 : 36

36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

 QS. 50 : 18

18. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.

 HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud

Kejujuran menuntun pada kebajikan, kebajikan dapat menghantarkan ke surga. Sesungguhnya kebohongan itu menyeret manusia pada kejahatan kejahatan itu dapat menyeret pada neraka. (berbohong hukumnya haram)

HR. Bukhari Muslim dari Abdullah bin amr bin ash.

Ada 4 hal kalau dimilikinya munafik tulen, yaitu :

  1. Jika diamanati dia berkhianat
  2. Jika berbicara dia dusta / bohong
  3. Jika berjanji diingkari
  4. Jika berselisih dia curang

 HR. Bukhari dari Ibnu Abas

Barangsiapa mengaku bermimpi sesuatu padahal dia tidak memimpikannya maka ia akan dituntut untuk menyambung dua ujung rambut.

 HR. Bukhari dari Ibnu Umar

Sebesar-besar dusta seseorang yang memaksakan kedua matanya melihat padahal dia tidak melihat.

Dengan Dalil – dalil tersebut jelaslah berbohong itu dosa, bahkan HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud, menyebutkan bahwa berbohong itu hukumnya Haram.  Tetapi Islam juga membolehkan umatnya berbohong dengan tujuan kebaikan,

HR Bukhari Muslim dari Ummu Kulsum

Bukanlah termasuk berbohong seseorang yang ingin memperbaiki

– Untuk memperbaiki orang yang bermusuhan

– Dalam peperangan

– Omongan suami dengan istrinya.

Lantas bagaimanakah jika seseorang bersaksi palsu atau berbohong dalam sebuah pengadilan. Saksi biasanya sebelum bersaksi akan disumpah menurut Agamanya. Jadi jika memberikan keterangan palsu atau berbohong dalam kesaksian Sidang Pengadilan, selain telah melecehkan agamanya juga akan mendapatkan sanksi hukum secara pidana.

Pasal 242 KUHP

(1) Barang siapa dalam keadaan dimana Undang – Undang menentukan supaya memberi keteranga di atas sumpah atau mengadakan akibat hukum keterangan yang  demikian , dengan sengaja memberikan keterangan palsu di atas sumpah, baik dengan lisan atau tulisan, secara pribadi atau oleh kuasanya yang ditunjuk untuk itu, diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun.

Lalu apa bedanya dengan para pejabat yang juga bersumpah di bawah Kitab suci, tetapi di dalam tugasnya selalu berbuat sewenang – wenang dan menyalahgunakan wewengnya. Mungkin secara hukum tertulis dia akan bebas, tetapi kelak Tuhan tidak akan membiarkannya, azab akan diterimanya, setiap amanah akan dimintai pertanggunjawabannya kelak.

Kebohongan akan memberikan dampak penderitaam psikologis dan sosial, apalagi jikan berbohong dalam kesaksian dipengadilan akan membuat yang “benar dipenjara dan yang salah tertawa” , meminjam istilah Rhoma Irama.

Semoga kita selalu berkata benar…!Waallahualam bissawab..!

Parung, 16 Februari 2012

KEMISKINAN CENDURUNG KUFUR?


Banyak orang berhujah tentang bahaya kemiskinan dengan ungkapan:

كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

Bermaksud: “Hampir-hampir kefaqiran itu membawa kepada kekufuran.”

Namun hadis ini adalah Hadis Tersangat Lemah.

Menurut pengarang Tuhfath al-Ahwazi Syarh Jami` Tirmizi ketika menghuraikan hadis ke 3525 Tirmizi, hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nu`aim dalam al-Hilyah daripada Anas sebagaimana tersebut dalam al-Jami` al-Saghir. Al-Munawi ketika menghuraikan hadis ini menjelaskan bahawa: sanadnya adalah amat lemah (wahin). Al-Qari pula mentafsirkan kefaqiran itu sebagai kefaqiran jiwa dan hati bukannya kefakiran harta. Kefakiran jiwa sememangnya membawa kepada kekufuran.

Justeru, hadis ini tidak mampu dibuat hujah untuk menyatakan bahaya kemiskinan, malah sebaliknya yang lebih bahaya ialah kemewahan dan kesenangan sebagaimana sabit dalam banyak hadis yang sahih.Antaranya:

‏لَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْM

Maksudnya: “Bukan kemiskinan yang ku bimbang menimpa kamu tetapi yang aku bimbang ialah dibentangkan di hadapan kamu kemewahan dunia sebagaimana telah dibentangkan kepada umat sebelum kamu, lalu kamu berlumba-lumba mengejarnya sebagaimana umat dahulu kala juga berlumba-lumba mengejarnya, lalu ia membinasakan kamu seperti mana umat dahulu kala juga telah dihancurkan oleh sifat sedemiian.” (Hadis Bukhari-Kitab al-Jizyah no 2924)

Walaupun begitu, Islam tidak juga menggalakkan umatnya menjadi miskin semata-mata. Ini kerana Nabi berdoa:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Maksudnya: “Ya Allah. Saya berlindung dengan Kamu daripada kekufuran dan kefaqiran dan saya berlindung dengan Kamu daripada azab kubur. Tiada Ilah melainkan Kamu.” (Hadis riwayat Abu Dawud, Nasaie dan Ahmad)

Islam juga tidak menggalakkan umatnya menjadi kaya semata-mata sebagaimana hadis sebelumnya. Yang digalakkan ialah samada orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar. Orang kaya yang bersyukur ialah orang kaya yang menggunakan hartanya pada tempat-tempat yang diarahkan oleh Alah untuk disalurkan. Orang miskin yang bersabar pula ialah orang miskin redha dengan kemiskinannya lalu tidak melakukan perkara haram demi untuk sesuap nasi. Malah sekiranya dibuat perbandingan, manakah yang lebih afdhal kaya yang bersyukur atau miskin yang bersabar? Maka majority ulama berpandangan kaya yang bersyukur lebih afdhal kerana manfaat kekayaannya melimpah dan dapat dinikmati oleh orang lain.