KISAH BANG MAMAN DARI KALIPASIR


Kisah “Bang Maman dari Kalipasir” sangat menggelitik hatiku sebagai orang tua, bagaimana tidak kisah yang amat super ini, dimasukkan sebagai bahan pelajaran anak SD kelas II dalam LKS (Lembar Kerja Siswa) Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta. Di saat terpaan media mass, dalam hal ini Televisi, dimana peran orang tua  harus mendampingi mereka dalam mengkonsusmsi tayangan media televisi juga media sosial seperti facebook dan game internet. Kini muncul bacaan – bacaan dari dunia pendidikan yang saya rasa kurang berkenan di hati orang tua. Anak – anak SD sejak kelas II harus mengenal kata – kata yang kurang mendidik seperti istri simpanan, perselingkuhan, pembunuhan dan kata – kata lainnya yang tidak baik diucapkannya.

Merujuk pada pengalaman saya, sebagai orang terkadang anak kita, harus mengetahui kata-kata atau kalimat yang belum waktunya mereka mengetahuinya, pernah anak saya menanyakan arti dari “istri muda”. Tentu saja saya sontak terkejut anak SD ingin mengetahui kata – kata seperti itu, itu belum saatnya dia mengetahui karena anakku bukanlah “bocah rembulan” atau “bocah karbitan” meminjam istilah dari Bang Iwan Fals. Continue reading “KISAH BANG MAMAN DARI KALIPASIR”

Gadis Maroko Bunuh Diri Usai Dipaksa Nikahi Pemerkosanya


Para aktivis di Maroko marah terkait suatu kabar tragis korban perkosaan. Mereka membuat petisi menuntut pemerintah agar mengubah aturan dalam hukum pidana setelah bunuh diri seorang gadis berusia 16 tahun. Dia nekat mengakhiri hidup setelah dipaksa menikahi pria yang memperkosanya tahun lalu.

Petisi online, lewat Facebook dan Twitter yang tak terhitung jumlahnya, mengekspresikan kengerian terkait tindakan Amina Filali yang menelan racun tikus pada Sabtu pekan lalu.

Pasal 475 UU Pidana Maroko membolehkan pelaku “penculikan” di bawah umur untuk menikahi korbannya, agar terhindar dari hukuman. Pasal ini kerap digunakan untuk menjustifikasi praktik tradisional yang membuka ruang pada pelaku pemerkosaan untuk menikahi korbannya, demi menjaga kehormatan keluarga perempuan.

“Hak Amina (16) dilanggar, oleh pemerkosanya, oleh tradisi dan oleh Pasal 476 UU Pidana Maroko,” demikian kutipan tweet seorang aktivis, Abadila Maaelaynine, seperti dimuat harian Daily Mail. Continue reading “Gadis Maroko Bunuh Diri Usai Dipaksa Nikahi Pemerkosanya”

Wisata Malam Di Makam Keramat


Suatu malam, tepatnya malam jum’at kliwon, Aku sengaja ikut rombongan orang – orang ke sebuah Desa Kecil, disekitak Kecamata Tomo, Desa itu dikenal oleh semua orang dengan nama Marongge. Bukannya  sengaja hendak ikut dalam ritual, aku kurang suka dengan hal – hal berbau klenik, cuma aku paling suka kalau jalan – jalan malam, Marongge memang sudah cukup dikenal di seluruh Indonesia. Bukan karena Desa itu penghasil rempah – rempah, atau komoditi hasil bumi lainnya, tetapi karena di Desa itu  ada sebuah makam keramat, yang biasa dikunjungi oleh para penziarah untuk mencari berkah seperti penglaris diri atau pelet. Pelet marongge memang sudah terkenal dan terbukti keampuhannya.

Sebagaimana makam keramat di mana pun, ke makam keramat Marongge, selalu datang peziarah dengan seribu-satu macam keperluan. Mulai dari ingin naik pangkat hingga ingin diberi kemudahan rezeki. Tetapi, yang lebih “hebat” dari itu, keramat Marongge terkenal karena peletnya. Pelet adalah semacam ilmu pemikat cinta. Barang siapa yang tergila-gila oleh perempuan atau lelaki, bila ingin cintanya tokcer, boleh datang ke Marongge.

Di malam hari menjelang dini hari, semua peziarah bakal dibimbing menuju Sungai Cilutung. Mereka mesti mandi sambil membuang pakaian dalam yang dipakainya.

Tetapi, kata juru kunci, upacara buang pakaian sebetulnya sekadar simbol. “Yang dibuang mestinya pakaian bekas bahkan sudah lusuh dan kotor. Itu adalah simbol di mana hal-hal kotor yang menempel di tubuh kita diminta dilepaskan dan biarkan menjauh dari tubuh kita,” tutur juru kunci.

Nah, inilah kebahagiaan bagi penduduk setempat. Kalau tiba harinya banyak peziarah yang mandi dan buang pakaian dalam, pada subuh harinya di hilir sana puluhan penduduk sudah siap-siap untuk mencegat “yang mau lewat”.

Continue reading “Wisata Malam Di Makam Keramat”

Selamat Pagi Dunia, Dengarkan Suara Kalbuku


Selamat pagi dunia,,selamat beraktifitas,,meskipun mentari pagi kurang bisa menyabut sapaan ‘selamat pagi” dan dia hanya bisa berkata “yup”, tak tak mengapa, engkau mentari pagiku, aku tetap bahagia menerimanya. Engkau malas untuk bersinar, engkau sepertinya kecewa pada dunia terutama dengan isinya yang bernama dunia yang tak selalu bersyukur kepada Nya. Semoga harapanku dan harapan semua orang mentari tak bosan tersenyum dan tak bosan untuk berucap “Selamat Pagi Dunia”
Semua makhluk terutama yang bernama manusia, sangat butuh sekali sinarmu, untuk sekedar menghangat diri, sebagai pemicu semangat hidup ini. Aku di sini seperti biasa pagi gelap telah menantikan kehadiranmu. duhai mentariku. Menjelang bersinarmu, kusurupu kopi kerinduanku, kutulis syair galau namu optimis, suatu saat  sinarmu kan benderang, menghitamkan wajahku –wajahmu jua– sekedar mensyukuri nikmatMu, Allah.
Bukankah kita dilahirkan atas nama cinta, dan dua sejoli berikrar atas nama Mu, lahirlah Aku. Meskipun, Aku terlempar ke dunia fana, berjuluk sebatang kara, karenanya aku aku ingin mentari tak henti menyinari dunia ini, hingga dunia  ambruk, dimana air lautan membahana daratan, semua dihancurkan, para pemabuk, koroptor, penjudi, penjinah, penebar maksiat dan pembohong tunggang langgang. Itulah “akhir dunia”  ini. Continue reading “Selamat Pagi Dunia, Dengarkan Suara Kalbuku”
Istimewa

Belajar Motivasi Hidup Dari Sang Penggali Kubur


Untuk belajar kita tidak  mengenal batas usia, tua atau muda, masih harus belajar, hingga kita sudah tidak bisa belajar lagi, dengan kata lain sudah ke liang lahat, barulah kita berhenti dari belajar. Ternyata semakin banyak kita belajar, semakin bertambah pula ilmu, semakin banyak kekurangan. Pelajar yang baik tidak akan terhenti pada satu tujuan atau hasil,  akan terus kita mencari , mencari dan mencari lagi. Serakah atau haus ilmu, agama amat menganjurkannya, tetapi kalau haus harta,  agama amat melarangnya, apalagi sampai melakukan tindakan korupsi yang merugikan banyak pihak termasuk rakyat.

Maslahnya untuk apa kita belajar, , ya pastinya supaya kita pintar, Jika sudah pintar yang diharapakan supaya kita bisa hidup dari kepintaran kita ini, jangan dipergunakan untuk membodohi orang. Alangkah bagusnya jika kepintaran dapat dipergunakan untuk hal – hal yang positif, dan dapat ditransfer kepada orang lain, agar orang lain juga bisa hidup dari kepintarannya itu. Banyak contoh kepintaran yang ditularkan, guru transfer ilmunya kepada muridnya, penulis  transfer ilmu menulis kepada orang yang berminat mejadi penulis dsb.

Islam sangatlah  menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu,Hadist Rasullah , “Tuntutlah Ilmu walau sampai ke Negeri China”, meskipun diragukan kesahihan hadist ini dan masih dipersoalkan oleh para alim ulama. Tetapi hadist ini telah membuktikan bahwa negeri China itu telah mengalami kemajuan yang pesat. Ayat  Al -Qur’an yang pertama diturunkan berisi perintah  bahwa kita harus selalu “Membaca”. Jika urutan pertama itu menggambarkan  sebagai sesuatu yang amat  penting, maka membaca adalah merupakan bagian dari ajaran Islam yang harus  mendapatkan perhatian saksama. Apalagi pada kenyataannya, kemampuan membaca selalu merupakan pintu meraih sukses. Siapapun yang  berhasil dalam  berbagai lapangan kehidupan ini,  ternyata diwali dari kemampuannya  membaca keadaaan secara benar dan tepat.Dengan membaca berarti kita dapat memperbanyak ilmu, karena sebagian besar orang – orang pintar men-transfer ilmu melalui media “buku”. Continue reading “Belajar Motivasi Hidup Dari Sang Penggali Kubur”

Download Ebook Mangir Karya Pramoedya Ananta Toer


Download Ebook Mangir Karya Pramoedya Ananta Toer

Latar belakang kisah Mangir karya Pramoedya Ananta Toer ini adalah keruntuhan Majapahit pada tahun 1527, akibat dari keruntuhan Majapahit, kekuasaan tak berpusat tersebar di seluruh daerah Jawa yang menyebabkan keadaan kacau balau. Perang terus terjadi untuk merebut kekuasaan tunggal, perang tersebut tentu saja menjadikan Pulau Jawa bermandikan darah. Sehingga yang muncul di Jawa adalah daerah-daerah kecil (desa) yang berbentuk Perdikan (desa yang tidak mempunyai kewajiban membayar pajak kepada pemerintah penguasa) dan menjalankan sistem demokrasi desa, dengan penguasanya yang bergelar Ki Ageng.

Adalah Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram dan mendirikan Kota Gede pada 1577. Kemudian Panembahan Senapati, anak Ki Ageng Pamanahan naik menjadi Raja Mataram.

Saat bersamaan muncul pula sebuah daerah Perdikan Mangir dengan pemimpinnya atau biasa disebut tua Perdikan yang bernama Ki Ageng Mangir Wanabaya seorang pemuda gagah dan berani beserta saudara angkatnya yang bernama Baru Klinting. Tak hanya berdua, Perdikan Mangir memperoleh bantuan dari beberapa orang demang yang masing-masing memiliki daerah kekuasaan pula. Demang Patalan, Demang Jodog, Demang Pandak, dan Demang Pajangan adalah orang-orang yang setia selalu membantu Wanabaya.

Nikmati detail ceritanya dengan mendownload ebooknya.

Download Ebook Mangir Disini
klik link ini untuk download  :
http://downloads.ziddu.com/downloadfile/16315370/pramoedya.DramaMangi.html

Media Indonesia – Tragedi Keadilan Nenek Rasminah


Media Indonesia – Tragedi Keadilan Nenek Rasminah.

TRAGEDI keadilan seperti tak habis melanda negeri ini. Aparat terus saja pamer diskriminasi, begitu garang menindak rakyat jelata, tetapi lunglai ketika menghadapi kalangan berada dan berkuasa. 

Korban teranyar ialah Rasminah, nenek berusia 55 tahun. Mahkamah Agung memvonisnya empat bulan 10 hari. Rasminah memang tak perlu menjalani penjara lagi. Masa hukuman dalam vonis MA itu sesuai dengan masa penahanan yang telah dijalani Nenek Rasminah selama proses penyidikan. 

Namun, vonis itu mengguncang rasa keadilan publik lantaran kesalahan sang nenek bisa disebut ecek-ecek. Ia dituding mencuri enam piring dan bahan sup buntut milik majikannya, Siti Aisyah Margaret Soekarnoputri. 

Pada sidang 22 Desember 2010, Pengadilan Negeri Tangerang sebenarnya memvonis bebas Rasminah. Namun, jaksa bernafsu mengajukan kasasi. Akibatnya, untuk menyelamatkan wajah penegak hukum, MA memvonis sang nenek sesuai dengan masa tahanannya sehingga impas. 

Warga Ciputat, Tangerang Selatan, itu harus meratapi nasib sebagai rakyat kecil yang sepertinya haram mendapat keadilan. Di sisa usianya, ia pun harus menanggung beban psikologis berat lantaran menyandang sebutan tak enak, yakni pencuri. 

Bukan kali ini saja wong cilik menjadi santapan kegarangan penegak hukum. Belum hilang dari ingatan ketika Nenek Minah, warga Banyumas, Jawa Tengah, divonis satu bulan 15 hari karena mencuri tiga buah kakao senilai Rp2.100 pada 2009. 

Kemudian, November tahun lalu, Aguswandi Tanjung dipenjara enam bulan kurungan karena dituduh mencuri listrik, padahal ia cuma menumpang mengecas ponsel di lobi sebuah apartemen. 

Mimpi buruk penegakan hukum berlanjut di Palu, Sulawesi Tengah, saat seorang pelajar diancam hukuman lima tahun hanya karena mencuri sandal jepit seharga Rp30 ribu milik Briptu Ahmad Rusdi Harahap. Pada sidang 4 Januari 2012, ia divonis bersalah, tetapi dikembalikan ke orangtuanya. 

Apa yang menimpa Nenek Rasminah merupakan bukti teramat nyata bahwa pedang hukum hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Para penegak hukum di negeri ini kelebihan nyali ketika menindak para tunakuasa.

Sebaliknya, mereka miskin akal dan keberanian untuk menjerat mereka yang disebut-sebut terlibat dalam perkara kakap, seperti Bank Century, Wisma Atlet, dan juga surat palsu Mahkamah Konstitusi. 

Kita jelas harus menggugat, mengapa jaksa begitu gesit membawa kasus Rasminah ini ke MA? Bukankah hingga 2011 ada 8.000 lebih perkara kasasi dan peninjauan kembali yang tertunggak untuk segera diputus? 

Kasus Nenek Minah hingga Nenek Rasminah semakin mengusik nurani kita. Akan dibawa ke mana sebenarnya hukum di Republik ini?